Ketika Dakwah Mulai Tercampur Kepentingan Diri

ArtikelDakwahTazkiyah

Ketika Dakwah Mulai Tercampur Kepentingan Diri


Pendahuluan

Dakwah adalah salah satu amal paling mulia. Ia bukan sekadar aktivitas berbicara tentang agama, menulis nasihat, mengajar manusia, mengelola lembaga Islam, atau mengajak masyarakat kepada kebaikan. Lebih dari itu, dakwah adalah tugas para nabi dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.

Namun kemuliaan sebuah amal tidak otomatis membuat pelakunya selamat dari penyakit hati. Justru semakin mulia suatu amal, semakin halus pula ujian yang menyertainya. Dakwah bisa menjadi jalan menuju derajat yang tinggi di sisi Allah, tetapi juga bisa berubah menjadi ujian berat ketika hati mulai bergeser dari mencari ridha Allah kepada mencari kepentingan diri.

Seseorang bisa memulai dakwah dengan niat yang baik. Ia ingin menyampaikan kebenaran, memperbaiki keadaan, membimbing manusia, dan menolong agama Allah. Namun di tengah perjalanan, hati manusia tidak selalu tetap. Ada saat ketika dakwah mulai bercampur dengan keinginan dikenal, dipuji, dihormati, ditokohkan, diikuti pendapatnya, dibela ucapannya, atau dianggap paling berjasa.

Di sinilah seorang Muslim perlu banyak bermuhasabah. Sebab yang paling ditakutkan bukan hanya berhentinya dakwah, tetapi berjalannya dakwah dengan hati yang tidak lagi murni untuk Allah.


Dakwah adalah Mengajak kepada Allah, Bukan kepada Diri Sendiri

Allah ﷻ berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحٰنَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah di atas bashirah. Maha Suci Allah, dan aku bukan termasuk orang-orang musyrik.”

QS. Yusuf: 108

Ayat ini sangat mendasar dalam memahami dakwah. Allah tidak mengatakan, “Aku mengajak manusia kepada diriku,” tetapi:

أَدْعُو إِلَى اللَّهِ

“Aku mengajak kepada Allah.”

Maka ukuran lurusnya dakwah bukan hanya banyaknya pengikut, luasnya pengaruh, kuatnya nama, atau ramainya kegiatan. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah dakwah itu benar-benar mengantarkan manusia kepada Allah atau justru mengikat manusia kepada pribadi, kelompok, lembaga, simbol, atau kepentingan tertentu.

Dakwah yang ikhlas menjadikan Allah sebagai tujuan. Adapun dai, guru, ustadz, penulis, pengurus lembaga, dan siapa pun yang bergerak di medan dakwah hanyalah perantara. Ketika perantara mulai ingin menjadi pusat perhatian, maka di situlah dakwah mulai tercampur.

Ini perlu direnungkan dengan jujur. Kadang seseorang berkata sedang memperjuangkan agama, tetapi hatinya sangat terluka ketika namanya tidak disebut. Kadang seseorang berkata ingin membela sunnah, tetapi ia marah ketika pendapatnya tidak diikuti. Kadang seseorang berkata ingin umat menjadi baik, tetapi ia tidak senang ketika kebaikan berjalan melalui orang lain.

Padahal orang yang benar-benar mengajak kepada Allah akan bahagia ketika kebenaran diterima, meskipun bukan melalui lisannya. Ia senang ketika umat mendapatkan hidayah, meskipun bukan melalui majelisnya. Ia lapang ketika kebaikan berkembang, meskipun bukan di bawah namanya.


Dakwah Harus Dibangun di Atas Ilmu, Bukan Ambisi

Dalam ayat tadi, Allah menyebutkan:

عَلَىٰ بَصِيرَةٍ

“Di atas bashirah.”

Bashirah berarti ilmu, kejelasan, pemahaman, dan petunjuk. Dakwah tidak cukup hanya bermodal semangat. Semangat tanpa ilmu bisa merusak. Keberanian tanpa hikmah bisa melukai. Keinginan memperbaiki tanpa pemahaman bisa menimbulkan kekacauan.

Allah ﷻ juga berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah manusia kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.”

QS. An-Nahl: 125

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah memiliki adab, ilmu, dan metode. Tidak semua kebenaran disampaikan dengan cara yang sama. Tidak semua orang dihadapi dengan pendekatan yang sama. Tidak semua kesalahan harus ditangani dengan emosi yang sama.

Mengikuti manhaj salaf bukan hanya berarti benar dalam materi akidah dan ibadah, tetapi juga berusaha benar dalam niat, adab, hikmah, kesabaran, dan sikap kepada manusia.

Para salaf sangat kuat dalam berpegang kepada sunnah, tetapi mereka juga sangat takut kepada penyakit hati. Mereka membela kebenaran, tetapi tidak menjadikan diri mereka sebagai tujuan dakwah. Mereka keras terhadap kebatilan ketika memang diperlukan, tetapi hati mereka tetap takut kepada Allah dan tidak menjadikan agama sebagai panggung ego.


Bahaya Menjadikan Dakwah sebagai Jalan Mencari Pengakuan

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ

“Barang siapa memperdengarkan amalnya agar didengar manusia, Allah akan memperdengarkan keburukannya. Barang siapa memperlihatkan amalnya agar dilihat manusia, Allah akan memperlihatkan keburukannya.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim.

Hadits ini sangat menakutkan bagi orang yang banyak tampil di hadapan manusia. Sebab dakwah sering bersentuhan dengan suara, tulisan, majelis, media, jabatan, dan pengaruh. Semua itu bisa menjadi sarana kebaikan, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk penyakit hati.

Sum‘ah adalah ketika seseorang ingin amalnya didengar manusia. Riya’ adalah ketika seseorang ingin amalnya dilihat manusia. Dalam konteks dakwah, keduanya bisa hadir dengan bentuk yang sangat halus.

Bisa jadi seseorang tidak secara terang-terangan berkata, “Aku ingin dipuji.” Namun hatinya merasa hampa ketika tidak ada yang memuji. Ia tidak mengatakan, “Aku ingin dikenal.” Namun ia kecewa ketika namanya tidak muncul. Ia tidak mengatakan, “Aku ingin dihormati.” Namun ia marah ketika diperlakukan seperti orang biasa.

Di sinilah dakwah perlu dibersihkan. Sebab dakwah yang semula untuk memperkenalkan manusia kepada Allah bisa berubah menjadi usaha halus untuk memperkenalkan diri sendiri kepada manusia.


Allah Tidak Menerima Amal yang Disekutukan dengan Selain-Nya

Dalam hadits qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah تبارك وتعالى berfirman:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِيَ غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amal yang ia menyekutukan Aku dengan selain-Ku dalam amal itu, Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.”

HR. Muslim.

Hadits ini mengajarkan bahwa Allah tidak membutuhkan amal kita. Allah tidak membutuhkan ceramah kita, tulisan kita, lembaga kita, jabatan kita, suara kita, ataupun perjuangan kita. Kitalah yang membutuhkan agar amal itu diterima oleh Allah.

Maka sangat merugi seseorang yang lelah dalam dakwah, tetapi hatinya dipenuhi pencarian selain Allah. Ia telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan mungkin hartanya, namun pahala amalnya rusak karena tujuan batinnya bercabang.

Bukan berarti seorang dai tidak boleh dikenal. Bukan berarti seorang guru tidak boleh dihormati. Bukan berarti sebuah lembaga tidak boleh tertata, dikenal, dan dipercaya masyarakat. Semua itu boleh menjadi akibat dari amal yang baik. Yang berbahaya adalah ketika semua itu berubah menjadi tujuan utama.

Ada perbedaan besar antara dikenal karena manfaat dan beramal agar dikenal. Ada perbedaan antara dipercaya karena amanah dan menjadikan amanah sebagai alat membesarkan diri. Ada perbedaan antara memimpin untuk melayani agama dan memimpin untuk mempertahankan kedudukan pribadi.


Pelajaran dari Hadits Tiga Orang Pertama yang Diadili

Di antara hadits yang paling mengguncang hati orang-orang yang beramal adalah hadits tentang tiga orang pertama yang diadili pada hari kiamat. Mereka bukan pelaku dosa yang tampak hina di mata manusia. Mereka adalah orang yang secara lahir melakukan amal besar: berjihad, menuntut dan mengajarkan ilmu, membaca Al-Qur’an, serta bersedekah.

Tentang orang yang belajar ilmu, mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an, disebutkan bahwa ia berkata kepada Allah:

تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ، وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ

“Aku belajar ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca Al-Qur’an karena-Mu.”

Namun dikatakan kepadanya:

كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ

“Engkau berdusta. Akan tetapi engkau belajar ilmu agar dikatakan sebagai orang alim, dan engkau membaca Al-Qur’an agar dikatakan sebagai qari’, dan sungguh telah dikatakan.”

HR. Muslim.

Hadits ini bukan untuk membuat penuntut ilmu, guru, qari’, dan dai berhenti dari amal. Justru hadits ini menjadi cambuk agar amal besar tidak dijalankan dengan hati yang kecil.

Betapa banyak orang mampu menyiapkan materi dakwah, tetapi lupa menyiapkan hatinya. Betapa banyak orang memperbaiki susunan kalimat, tetapi tidak memperbaiki kejujuran niatnya. Betapa banyak orang memperindah tampilan dakwah, tetapi lalai membersihkan tujuan batinnya.

Hadits ini mengingatkan bahwa manusia bisa tertipu oleh tampilan amal. Masyarakat mungkin menyebut seseorang sebagai alim, dai, dermawan, pejuang, atau tokoh. Namun sebutan manusia bukan bukti keselamatan di sisi Allah. Yang menentukan adalah kejujuran hati di hadapan Rabbul ‘alamin.


Ketika Kepentingan Diri Masuk ke Medan Dakwah

Kepentingan diri dalam dakwah tidak selalu muncul dalam bentuk yang kasar. Ia sering hadir dalam bentuk yang sangat halus.

  • Ia bisa muncul ketika seseorang lebih ingin menang debat daripada menyelamatkan saudaranya dari kesalahan.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang lebih senang membuktikan bahwa dirinya benar daripada membuat kebenaran itu dicintai.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang menjadikan majelis ilmu sebagai ruang menonjolkan keluasan hafalan, bukan sebagai sarana menundukkan hati kepada Allah.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang menilai keberhasilan dakwah hanya dari banyaknya pengikut, bukan dari lurusnya aqidah, ibadah, akhlak, dan ketundukan kepada sunnah.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang merasa tidak rela bila kebaikan dilakukan orang lain lebih berhasil daripada kebaikan yang ia lakukan.
  • Ia bisa muncul ketika pengurus lembaga Islam lebih sibuk menjaga citra dirinya daripada menjaga amanah Allah.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang menggunakan dalil untuk membungkam orang lain, tetapi tidak menggunakan dalil itu untuk menasihati dirinya sendiri.
  • Ia bisa muncul ketika seseorang mudah menasihati umat tentang ikhlas, tetapi sangat sulit menerima kritik atas dirinya.

Inilah penyakit yang halus. Secara lahir, semuanya masih tampak seperti dakwah. Ada ayat, hadits, majelis, tulisan, nasihat, program, lembaga, dan aktivitas. Tetapi di balik semua itu, hati bisa bergeser dari Allah kepada diri sendiri.


Tanda-Tanda Dakwah Mulai Tercampur Kepentingan Diri

Ada beberapa tanda yang perlu sering direnungkan.

Pertama, seseorang merasa berat bila kebaikan berjalan tanpa dirinya. Ia tidak cukup bahagia melihat kebenaran tersebar, kecuali bila dirinya menjadi bagian yang paling terlihat.

Kedua, ia lebih sibuk mempertahankan nama daripada mempertahankan kebenaran. Bila keliru, ia sulit mengakui. Bila dinasihati, ia merasa dijatuhkan. Bila dikoreksi, ia menganggapnya sebagai serangan pribadi.

Ketiga, ia memilih sikap berdasarkan dukungan manusia. Kebenaran disampaikan bila menguntungkan posisinya, tetapi ditahan bila berisiko menurunkan popularitasnya.

Keempat, ia merasa lebih besar daripada amanah. Padahal seharusnya seorang hamba merasa kecil di hadapan amanah dakwah. Bila seseorang mulai merasa dakwah membutuhkan dirinya, ia perlu segera mengingat bahwa Allah bisa menolong agama-Nya dengan siapa pun yang Dia kehendaki.

Kelima, ia mudah merendahkan pelaku kebaikan lain. Seakan-akan dakwah yang benar hanya dakwah yang berada di tangannya, kelompoknya, lembaganya, atau jalurnya.

Keenam, ia menjadikan umat sebagai pengikut pribadi, bukan sebagai hamba Allah yang harus dibimbing kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Ketujuh, ia lebih sensitif terhadap penghinaan kepada dirinya daripada pelanggaran terhadap agama Allah. Ego pribadi lebih cepat tersulut daripada kecemburuan terhadap batasan syariat.

Tanda-tanda ini tidak boleh langsung dijadikan alat untuk menuduh orang lain. Ia lebih layak dijadikan cermin untuk memeriksa diri sendiri.


Manhaj Salaf dalam Dakwah: Ikhlas, Sunnah, Ilmu, dan Adab

Mengikuti manhaj salaf dalam dakwah berarti mengajak manusia kepada tauhid, sunnah, dan ketaatan kepada Allah berdasarkan ilmu. Tetapi manhaj salaf juga menuntut kebersihan hati, ketundukan kepada dalil, serta kehati-hatian dari hawa nafsu.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh رحمه الله berkata ketika menjelaskan amal yang paling baik:

أَخْلَصُهُ وَأَصْوَبُهُ

“Yang paling ikhlas dan paling benar.”

Beliau menjelaskan:

إِنَّ الْعَمَلَ إِذَا كَانَ خَالِصًا وَلَمْ يَكُنْ صَوَابًا لَمْ يُقْبَلْ، وَإِذَا كَانَ صَوَابًا وَلَمْ يَكُنْ خَالِصًا لَمْ يُقْبَلْ، حَتَّى يَكُونَ خَالِصًا صَوَابًا؛ وَالْخَالِصُ أَنْ يَكُونَ لِلَّهِ، وَالصَّوَابُ أَنْ يَكُونَ عَلَى السُّنَّةِ

“Sesungguhnya amal apabila ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Apabila benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima, sampai amal itu ikhlas dan benar. Ikhlas adalah karena Allah, dan benar adalah sesuai dengan sunnah.”

Ini adalah kaidah besar dalam dakwah. Dakwah tidak cukup hanya ikhlas, tetapi harus sesuai sunnah. Dakwah juga tidak cukup hanya tampak sesuai sunnah, tetapi harus ikhlas.

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata:

مَا عَالَجْتُ شَيْئًا أَشَدَّ عَلَيَّ مِنْ نِيَّتِي؛ لِأَنَّهَا تَتَقَلَّبُ عَلَيَّ

“Aku tidak pernah mengobati sesuatu yang lebih berat atas diriku daripada niatku, karena niat itu selalu berubah-ubah terhadapku.”

Perkataan ini sangat dalam. Seorang imam besar seperti Sufyan ats-Tsauri merasa berat menjaga niatnya. Maka bagaimana dengan kita yang amalnya sedikit, ilmunya terbatas, dan hatinya sering goyah oleh pujian dan celaan?

Ibn al-Mubarak رحمه الله berkata:

رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ

“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.”

Dalam dakwah, ini sangat terasa. Satu nasihat sederhana kepada seseorang bisa menjadi besar bila dilakukan karena Allah. Sebaliknya, satu program besar bisa menjadi kecil bila hanya dibangun di atas ambisi, gengsi, dan pencitraan.

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله berkata:

رَحِمَ اللَّهُ عَبْدًا وَقَفَ عِنْدَ هَمِّهِ، فَإِنْ كَانَ لِلَّهِ مَضَى، وَإِنْ كَانَ لِغَيْرِهِ تَأَخَّرَ

“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak ketika muncul keinginannya. Jika keinginan itu karena Allah, ia lanjutkan. Jika karena selain-Nya, ia tahan.”

Ini adalah latihan besar dalam dakwah: berhenti sejenak sebelum berbicara, sebelum menulis, sebelum membantah, sebelum membuat keputusan, sebelum menerima amanah, sebelum menegur orang lain, dan sebelum menampilkan amal.

Tidak semua yang ingin kita lakukan harus langsung dilakukan. Tidak semua yang bisa kita ucapkan harus diucapkan. Tidak semua yang benar harus disampaikan dengan cara yang memuaskan ego. Seorang hamba perlu bertanya: “Apakah ini karena Allah, atau karena aku ingin menang?”


Renungan Aplikatif untuk Para Penggerak Dakwah

Seorang guru perlu bertanya kepada dirinya: apakah aku mengajar agar murid-murid mengenal Allah, atau agar mereka kagum kepadaku?

Seorang dai perlu bertanya: apakah aku berbicara agar manusia kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, atau agar mereka mengutip ucapanku?

Seorang penulis nasihat perlu bertanya: apakah aku menulis agar hati manusia hidup, atau agar namaku semakin dikenal?

Seorang pengurus lembaga perlu bertanya: apakah aku memegang amanah untuk melayani agama, atau untuk mempertahankan pengaruh?

Seorang pemimpin kegiatan Islam perlu bertanya: apakah aku lebih mencintai keberhasilan program, atau lebih mencintai posisiku dalam program itu?

Seorang penuntut ilmu perlu bertanya: apakah aku belajar agar semakin tunduk kepada Allah, atau agar bisa mengalahkan orang lain dalam perdebatan?

Seorang pembina santri perlu bertanya: apakah aku menegur karena sayang dan ingin memperbaiki, atau karena ingin melampiaskan emosi dan menunjukkan kuasa?

Pertanyaan-pertanyaan ini berat. Tetapi hati yang tidak pernah diperiksa akan mudah tertipu. Sering kali manusia tidak jatuh karena tidak tahu dalil, tetapi karena tidak jujur kepada dirinya sendiri.


Menyelamatkan Dakwah dari Kepentingan Diri

Pertama, perbarui niat sebelum, ketika, dan setelah berdakwah. Jangan merasa cukup dengan niat baik di awal. Hati bisa berubah di tengah jalan.

Kedua, perbanyak amal tersembunyi. Orang yang seluruh amalnya selalu ingin terlihat akan lemah ketika tidak diperhatikan. Amal rahasia mendidik hati agar tetap hidup bersama Allah, bukan bersama pujian manusia.

Ketiga, biasakan menerima nasihat. Orang yang ikhlas lebih mudah kembali kepada kebenaran. Ia tidak merasa harga dirinya jatuh hanya karena mengakui kesalahan.

Keempat, bedakan antara membela agama dan membela ego. Tidak semua kemarahan dalam dakwah adalah karena Allah. Kadang yang terluka bukan agama, tetapi harga diri.

Kelima, jangan mengukur dakwah hanya dengan angka. Banyaknya jamaah, pengikut, komentar, undangan, atau dukungan bukan satu-satunya tanda keberkahan. Ukuran utama adalah kebenaran, keikhlasan, kesesuaian dengan sunnah, dan dampaknya terhadap ketakwaan.

Keenam, jangan takut bila kebaikan berjalan melalui orang lain. Orang yang ikhlas tidak iri kepada jalan kebaikan. Ia justru bersyukur ketika Allah menolong agama-Nya melalui banyak tangan.

Ketujuh, jaga amanah harta, jabatan, dan kepercayaan umat. Dakwah bukan ruang untuk bermain-main dengan amanah. Uang umat, kepercayaan wali, titipan santri, jabatan lembaga, dan nama agama semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.

Kedelapan, banyak berdoa agar Allah menjaga hati. Di antara doa yang sangat penting untuk dibaca adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu dari apa yang tidak aku ketahui.”

Diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه, dan dinilai shahih oleh sebagian ulama hadits.

Doa ini mengajarkan bahwa penyakit hati tidak selalu disadari. Ada syirik kecil, riya’, ujub, cinta pujian, dan kepentingan tersembunyi yang kadang masuk tanpa terasa. Maka seorang dai tidak cukup mengandalkan ilmunya. Ia harus terus meminta perlindungan kepada Allah.


Jangan Berhenti Berdakwah, tetapi Bersihkan Arahnya

Pembahasan seperti ini bukan untuk membuat orang takut beramal lalu meninggalkan dakwah. Itu juga bisa menjadi tipu daya setan. Setan kadang menggoda manusia dengan riya’ agar amalnya rusak. Jika tidak berhasil, ia menggoda manusia dengan rasa takut riya’ agar amalnya ditinggalkan.

Jalan yang benar bukan meninggalkan amal, tetapi memperbaiki niat sambil terus beramal.

Seorang Muslim tetap berdakwah, tetap mengajar, tetap menulis, tetap membina, tetap mengelola lembaga, tetap menolong umat, dan tetap menyampaikan kebenaran. Namun ia berjalan dengan hati yang takut kepada Allah, bukan dengan hati yang merasa aman dari penyakit.

Ia tidak bangga hanya karena manusia memujinya. Ia tidak putus asa hanya karena manusia mencelanya. Ia tidak merasa besar karena banyak beramal. Ia tidak merasa dakwah bergantung kepada dirinya.

Ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba. Bila Allah menerima amalnya, itu murni karena karunia Allah. Bila Allah menutup aibnya, itu karena rahmat Allah. Bila Allah memakai dirinya untuk kebaikan, itu bukan bukti bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain, tetapi amanah yang harus disyukuri dan ditakuti.


Penutup

Dakwah adalah kemuliaan, tetapi juga amanah yang berat. Ia harus dijaga dari penyimpangan ilmu dan penyimpangan niat. Ia harus bersih dari bid’ah, tetapi juga harus bersih dari riya’. Ia harus mengikuti sunnah, tetapi juga harus dijalankan dengan keikhlasan. Ia harus tegas terhadap kebatilan, tetapi tidak boleh menjadi alat membesarkan ego pribadi.

Orang yang ikhlas dalam dakwah tidak menjadikan manusia sebagai tujuan. Ia tidak menjadikan pujian sebagai bahan bakar utama. Ia tidak menjadikan jabatan sebagai ukuran kemuliaan. Ia tidak menjadikan pengikut sebagai bukti kebenaran mutlak dirinya.

Ia hanya ingin Allah ridha. Ia ingin manusia mengenal Rabbnya. Ia ingin sunnah Nabi ﷺ hidup. Ia ingin umat selamat. Ia ingin kebenaran menang, meskipun bukan melalui namanya.

Maka marilah kita terus berdakwah, tetapi dengan hati yang terus dibersihkan. Terus beramal, tetapi dengan niat yang terus diperbarui. Terus menyampaikan kebenaran, tetapi dengan jiwa yang tunduk kepada Allah.

Semoga Allah menjadikan dakwah kita ikhlas karena-Nya, sesuai dengan sunnah Rasul-Nya ﷺ, bersih dari riya’, sum‘ah, ujub, ambisi dunia, dan kepentingan diri yang tersembunyi.


Referensi

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari.
  3. Muslim, Shahih Muslim.
  4. Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi.
  5. Ibn Rajab al-Hanbali, Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam.
  6. Ibn Abi al-Dunya, Al-Ikhlash wa al-Niyyah.
  7. Abu Nu’aym al-Ashbahani, Hilyat al-Awliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’.
  8. Al-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’.
  9. Ibn al-Qayyim, Madarij al-Salikin.
  10. Dorar.net, Al-Mawsu’ah al-Haditsiyyah.
Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
Click outside to hide the comparison bar
Compare
No apps configured. Please contact your administrator.
No apps configured. Please contact your administrator.