Jangan Matikan Pertanyaan Anak: Menumbuhkan Keberanian Belajar dalam Pendidikan Islam
25/08/2026 2026-08-25 0:35Jangan Matikan Pertanyaan Anak: Menumbuhkan Keberanian Belajar dalam Pendidikan Islam
Jangan Matikan Pertanyaan Anak: Menumbuhkan Keberanian Belajar dalam Pendidikan Islam

Ada ruang belajar yang terlihat sangat tertib: anak-anak diam, tidak menyela, dan segera mengerjakan apa yang diperintahkan. Namun, ketenangan seperti itu belum selalu menunjukkan bahwa proses belajar berlangsung dengan baik. Sebagian anak diam karena paham, sedangkan sebagian lainnya diam karena takut. Mereka takut pertanyaannya dianggap bodoh, takut ditertawakan teman, takut guru tersinggung, atau takut orang tua menilai pertanyaan sebagai tanda lemahnya iman dan kurangnya adab.
Ketika pengalaman semacam ini berulang, anak belajar menyembunyikan ketidaktahuannya. Ia mengangguk meskipun belum mengerti, menghafal jawaban tanpa memahami alasan, dan memilih mencari penjelasan sendirian dari sumber yang belum tentu dapat dipercaya. Dalam jangka pendek, kelas tampak tenang. Dalam jangka panjang, tumbuh pribadi yang takut salah, mudah menerima informasi tanpa memeriksa, atau menyimpan persoalan penting sampai menjadi kebingungan yang lebih besar.
Pendidikan Islam tidak mengajarkan keberanian yang kehilangan adab. Namun, adab juga tidak boleh disalahgunakan untuk mematikan pertanyaan. Anak perlu mengetahui kapan bertanya, kepada siapa ia bertanya, bagaimana merumuskan pertanyaan, dan bagaimana menerima jawaban. Pada saat yang sama, orang dewasa perlu belajar mendengar, mengakui jika belum tahu, serta membedakan pertanyaan yang jujur dari perdebatan yang hanya bertujuan menolak kebenaran.
Bertanya adalah jalan keluar dari ketidaktahuan
Allah Ta‘ala berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ ۚ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Kami tidak mengutus sebelum engkau melainkan laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.”
(QS. An-Nahl: 43)
Ayat ini turun dalam konteks penjelasan bahwa para rasul sebelum Nabi Muhammad ﷺ juga manusia yang menerima wahyu. Namun, perintah bertanya di dalamnya melahirkan prinsip ilmu yang luas: orang yang tidak mengetahui hendaknya kembali kepada ahli yang mengetahui, bukan menebak, mengikuti prasangka, atau merasa malu mengakui keterbatasan.
Syaikh Abdurrahman as-Sa‘di رحمه الله menjelaskan:
فَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ مَنْ لَا يَعْلَمُ بِالرُّجُوعِ إِلَيْهِمْ فِي جَمِيعِ الْحَوَادِثِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan orang yang tidak mengetahui agar kembali kepada ahli ilmu dalam berbagai persoalan.”
Beliau juga menerangkan bahwa ayat ini mengandung pujian kepada ahli ilmu dan menunjukkan kedudukan ilmu tentang Kitab Allah sebagai jenis ilmu yang paling tinggi.
Prinsip tersebut mengajarkan dua kerendahan hati sekaligus. Anak perlu rendah hati untuk berkata, “Belum paham.” Orang dewasa juga perlu rendah hati untuk menerima bahwa penjelasannya mungkin belum jelas atau bahwa ia belum memiliki jawaban. Keduanya tidak kehilangan kehormatan. Justru pengakuan yang jujur menjadi awal datangnya ilmu.
Diam belum tentu adab, banyak bertanya belum tentu belajar
Ada anggapan bahwa anak yang baik adalah anak yang tidak banyak bertanya. Anggapan ini perlu diperiksa. Diam ketika guru menjelaskan memang bagian dari adab. Akan tetapi, terus diam setelah tidak memahami dapat membuat kesalahan menetap. Sebaliknya, banyak bertanya juga belum tentu menunjukkan kesungguhan apabila pertanyaannya tidak didahului perhatian, mengulang hal yang telah diterangkan karena lalai, atau sengaja diajukan untuk menguji dan mempermalukan guru.
Keseimbangannya tampak dalam firman Allah:
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَىٰ إِلَيْكَ وَحْيُهُ ۖ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Mahatinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, ‘Wahai Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.’”
(QS. Thaha: 114)
As-Sa‘di mengambil pelajaran adab belajar dari ayat ini. Beliau menjelaskan bahwa pendengar hendaknya tenang dan sabar sampai guru menyelesaikan rangkaian penjelasannya. Setelah itu, apabila masih ada yang belum dipahami, ia bertanya. Beliau melanjutkan:
وَكَذَلِكَ الْمَسْؤُولُ يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَسْتَمْلِيَ سُؤَالَ السَّائِلِ، وَيَعْرِفَ الْمَقْصُودَ مِنْهُ قَبْلَ الْجَوَابِ
“Demikian pula orang yang ditanya hendaknya menyimak pertanyaan penanya dan memahami maksudnya sebelum menjawab.”
Inilah pendidikan dua arah. Murid tidak memotong pembicaraan, sedangkan guru tidak terburu-buru menyimpulkan maksud murid. Murid belajar merumuskan masalah, sedangkan guru membantu menjernihkan pertanyaan. Adab bukan hanya kewajiban pihak yang lebih muda. Orang dewasa pun memiliki adab ketika mendengar dan menjawab.
Ketika pertanyaan dimatikan, anak tetap mencari jawaban
Anak yang tidak memperoleh ruang aman di rumah atau sekolah tidak otomatis berhenti penasaran. Ia hanya memindahkan tempat bertanya. Hari ini, jawaban tersedia melalui mesin pencari, media sosial, video pendek, forum anonim, dan akun yang berbicara sangat meyakinkan tanpa dasar ilmu. Sumber yang mudah ditemukan belum tentu sumber yang benar, dan cara penyampaian yang percaya diri tidak membuktikan keahlian.
Karena itu, respons keras terhadap pertanyaan agama dapat membawa akibat yang tidak diinginkan. Ketika anak bertanya tentang hikmah suatu ibadah, keadilan takdir, perbedaan pendapat, atau persoalan yang ia temui di internet, jangan segera menganggapnya menentang. Bisa jadi ia sedang berusaha menghubungkan pelajaran dengan kenyataan. Pertanyaan yang hari ini dijawab dengan sabar dapat mencegah kebingungan yang jauh lebih berat di kemudian hari.
Namun, keterbukaan bukan berarti semua sumber dan semua cara bertanya dinilai sama. Anak perlu dibimbing membedakan antara mencari pengetahuan dan mencari pembenaran. Pertanyaan yang baik lahir dari keinginan mengetahui kebenaran serta kesiapan mengikutinya. Adapun perdebatan yang tidak sehat terus berpindah persoalan, menolak setiap jawaban tanpa mempertimbangkannya, atau menjadikan pertanyaan sebagai alat merendahkan orang lain.
Nabi ﷺ mencela jawaban tanpa ilmu
Jabir bin Abdullah رضي الله عنه meriwayatkan tentang seorang lelaki yang terluka di kepala dalam perjalanan, kemudian mengalami junub. Ia bertanya apakah mendapat keringanan bertayamum, tetapi orang-orang di sekitarnya menjawab tanpa ilmu bahwa tidak ada keringanan. Ia pun mandi dan meninggal. Ketika kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
أَلَا سَأَلُوا إِذْ لَمْ يَعْلَمُوا؟ فَإِنَّمَا شِفَاءُ الْعِيِّ السُّؤَالُ
“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak mengetahui? Sesungguhnya obat ketidaktahuan adalah bertanya.”
(HR. Abu Dawud no. 336; dinilai hasan oleh al-Albani untuk pokok riwayatnya)
Konteks hadits ini serius: jawaban tanpa ilmu membawa akibat yang sangat berat. Ia menunjukkan bahwa masalah pendidikan bukan hanya anak yang tidak mau bertanya, tetapi juga orang dewasa yang merasa harus selalu menjawab. Ucapan “belum tahu, mari kita tanyakan kepada yang lebih ahli” jauh lebih aman dan lebih mendidik daripada jawaban tegas yang dibangun di atas dugaan.
Sikap ini juga memberi teladan tentang cara memperlakukan ilmu. Anak melihat bahwa kehormatan bukan terletak pada mengetahui semua hal, melainkan pada kejujuran, ketelitian, dan kesediaan mencari kebenaran. Ia pun belajar bahwa bertanya kepada ahli bukan tanda kelemahan, tetapi tanggung jawab.
Pertanyaan mengubah anak dari penerima menjadi pencari ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim no. 2699)
Mencari ilmu adalah perjalanan aktif. Anak tidak hanya menunggu informasi diberikan, tetapi belajar mengenali apa yang belum dipahami, mencari orang yang tepat, membandingkan penjelasan, dan menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan. Pertanyaan yang baik merupakan salah satu kendaraan dalam perjalanan itu.
Di sinilah pendidikan perlu bergerak lebih jauh daripada target menyelesaikan materi. Guru dapat menyampaikan seluruh bab, tetapi anak belum tentu belajar berpikir. Ia mungkin mampu mengulang definisi, tetapi kebingungan ketika menghadapi persoalan baru. Dengan pertanyaan, guru dapat melihat cara anak memahami materi, menemukan kesalahan nalar, dan mengetahui bagian mana yang perlu diterangkan kembali.
Respons orang dewasa menentukan pertanyaan berikutnya
Kadang anak belum mampu menyusun pertanyaan dengan rapi. Ia memakai istilah yang keliru, mencampur beberapa masalah, atau terdengar seperti menuduh. Jangan hanya menanggapi bentuk kalimatnya. Bantu ia menemukan maksudnya: “Apakah yang ingin kamu tanyakan adalah alasan hukumnya, atau kamu sedang kesulitan menjalankannya?” Pertanyaan penjernih seperti ini mengajarkan anak berpikir tanpa mempermalukannya.
Hindari respons spontan seperti, “Begitu saja tidak paham?”, “Kamu membantah, ya?”, atau menertawakan pertanyaannya bersama orang lain. Kalimat tersebut mungkin segera menghentikan percakapan, tetapi juga dapat menutup pintu kepercayaan. Jika pertanyaannya disampaikan dengan cara kurang sopan, perbaiki adabnya tanpa membunuh rasa ingin tahunya: “Pertanyaanmu penting. Mari kita ulang dengan kata-kata yang lebih baik.”
Jawaban pun tidak harus selalu panjang. Terkadang anak membutuhkan jawaban inti, contoh yang dekat, dan kesempatan mencerna. Jika masalahnya rumit, katakan bahwa pembahasannya memerlukan waktu atau perlu ditanyakan kepada ahli. Buat janji kapan percakapan dilanjutkan, lalu tepati. Menunda dengan jelas berbeda dari menghindar.
Membangun budaya bertanya di rumah dan lembaga
Budaya tidak terbentuk melalui satu nasihat. Ia lahir dari pengalaman yang berulang. Orang tua dan pendidik dapat memulainya melalui langkah berikut:
- Berikan waktu khusus setelah pelajaran atau percakapan keluarga untuk pertanyaan tanpa ejekan.
- Apresiasi kejujuran anak ketika mengaku belum memahami, bukan hanya ketika jawabannya benar.
- Biasakan pertanyaan penuntun seperti, “Apa yang membuatmu berpendapat demikian?” dan “Bagian mana yang masih membingungkan?”
- Ajarkan anak menunggu penjelasan selesai, mengangkat tangan, menggunakan bahasa santun, dan tidak mengulang pertanyaan karena lalai mendengarkan.
- Pisahkan koreksi terhadap cara bertanya dari penghargaan terhadap isi pertanyaannya.
- Jangan memaksa jawaban cepat untuk masalah yang memerlukan pemeriksaan dalil atau keahlian khusus.
- Tunjukkan cara memeriksa sumber: siapa penulisnya, apa keahliannya, dalil apa yang digunakan, dan apakah penjelasannya dapat dirujuk.
- Sediakan saluran pribadi bagi anak yang belum berani bertanya di depan teman-temannya.
- Catat pertanyaan yang belum terjawab dan pastikan ada tindak lanjut.
- Evaluasi bukan hanya anak yang diam, tetapi juga cara orang dewasa menanggapi pertanyaan selama ini.
Budaya bertanya yang sehat tidak membuat wibawa guru hilang. Sebaliknya, guru dihormati karena amanah terhadap ilmu, tidak merendahkan murid, dan berani mengatakan batas pengetahuannya. Anak pun tidak dibiarkan berbicara sesuka hati; ia dibimbing menyampaikan persoalan secara jernih, sabar, dan beradab.
Penutup
Anak yang bertanya sedang memperlihatkan sebuah pintu. Di baliknya mungkin terdapat rasa ingin tahu, kebingungan, kesalahan memahami, kegelisahan, atau kebutuhan untuk diyakinkan. Apabila pintu itu segera ditutup dengan kemarahan dan ejekan, persoalannya tidak lenyap. Orang dewasa hanya kehilangan kesempatan untuk mengetahui apa yang sedang tumbuh di dalam pikiran dan hatinya.
Pendidikan Islam membutuhkan ilmu sekaligus adab, keberanian sekaligus kerendahan hati. Anak dibimbing untuk mendengarkan sebelum bertanya, memilih ahli yang dapat dipercaya, dan menerima jawaban berdasarkan kebenaran. Orang tua dan guru dibimbing untuk memahami pertanyaan sebelum menjawab, tidak berbicara tanpa ilmu, serta menciptakan suasana yang membuat ketidaktahuan dapat diakui tanpa kehilangan martabat.
Karena itu, jangan ukur keberhasilan pendidikan hanya dari ruang kelas yang sunyi atau anak yang selalu mengangguk. Tanyakan apakah ia cukup aman untuk berkata, “Belum paham,” cukup terlatih untuk mencari penjelasan, dan cukup beradab untuk mengikuti kebenaran setelah mengetahuinya. Ketika pertanyaan dipelihara dengan adab dan diarahkan kepada sumber yang benar, ia tidak melemahkan pendidikan. Ia justru menjadi jalan agar ilmu berakar lebih dalam dan iman berdiri di atas pemahaman.
Referensi
- Al-Qur’an, QS. An-Nahl: 43.
- Al-Qur’an, QS. Thaha: 114.
- Tafsir as-Sa‘di atas QS. An-Nahl: 43.
- Tafsir as-Sa‘di atas QS. Thaha: 114.
- Hadits “Obat ketidaktahuan adalah bertanya”, Sunan Abi Dawud no. 336.
- Hadits tentang menempuh jalan mencari ilmu, Sahih Muslim no. 2699.