Ketika Kesibukan Dakwah Perlahan Menjauhkan dari Al-Qur’an
10/08/2026 2026-08-10 16:40Ketika Kesibukan Dakwah Perlahan Menjauhkan dari Al-Qur’an
Menjaga agar kesibukan menyampaikan wahyu tidak memutus hubungan pribadi dengan wahyu

Kesibukan dalam dakwah adalah nikmat yang besar. Ada jadwal mengajar, menyiapkan materi, mendampingi umat, menjawab pertanyaan, mengelola lembaga, menghadiri rapat, melakukan perjalanan, serta menyelesaikan berbagai urusan yang berkaitan dengan kemaslahatan kaum muslimin. Semuanya dapat menjadi amal yang mulia apabila dilakukan dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ.
Namun, di tengah kesibukan itu, terkadang muncul keadaan yang perlu direnungkan dengan tenang: mushaf semakin jarang dibuka kecuali ketika mencari dalil, waktu tilawah terus bergeser karena agenda lain, dan ayat-ayat yang dahulu kuat dalam hafalan mulai terasa samar.
Bukan karena tidak mencintai Al-Qur’an. Bahkan, boleh jadi semua itu terjadi justru ketika seseorang sedang sibuk mengajarkan agama dan melayani umat.
Tulisan ini bukan untuk menilai keadaan orang lain. Ia lebih layak dijadikan cermin bagi siapa pun yang membawa amanah dakwah, pendidikan, dan pengajaran. Sebab, kesibukan dalam kebaikan tetap membutuhkan penataan agar tidak mengurangi bagian kebaikan lain yang menjadi sumber kekuatan hati.
Ketika berbagai kebaikan saling memperebutkan waktu
Dakwah dan tilawah Al-Qur’an bukanlah dua amal yang bertentangan. Allah bahkan menyebut membaca Al-Qur’an, mendirikan salat, dan memberikan manfaat kepada orang lain dalam rangkaian amal yang sama:
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan pernah rugi.”
(QS. Fathir: 29)
Ayat ini memperlihatkan keseimbangan antara amal yang memperbaiki diri dan amal yang memberi manfaat kepada orang lain. Seorang muslim tidak harus memilih salah satunya. Yang diperlukan adalah menempatkan setiap amal pada bagiannya.
Masalah biasanya muncul bukan karena dakwah dianggap lebih penting daripada Al-Qur’an, melainkan karena pekerjaan dakwah terasa mendesak dan memiliki batas waktu. Pesan harus segera dijawab, materi harus selesai, rapat harus dihadiri, dan persoalan umat harus diselesaikan. Sementara itu, tilawah dapat ditunda karena seolah-olah tidak ada orang lain yang menagihnya.
Yang mendesak akhirnya mengalahkan yang mendasar.
Lebih sulit lagi, seluruh kesibukan tersebut membawa nama agama. Karena itu, seseorang mungkin tidak segera menyadari bahwa hubungan pribadinya dengan Al-Qur’an sedang melemah. Jadwalnya penuh dengan kebaikan, tetapi hati tetap membutuhkan waktu khusus untuk menerima bimbingan dari sumber segala kebaikan.
Al-Qur’an bukan sekadar bahan untuk berdakwah
Allah menurunkan Al-Qur’an bukan hanya agar ayatnya dikutip dan disampaikan, tetapi agar dibaca, direnungkan, dan dijadikan petunjuk:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu, penuh berkah, agar mereka merenungkan ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mengambil pelajaran.”
(QS. Shad: 29)
Ada perbedaan antara membaca Al-Qur’an untuk mencari bahan yang akan disampaikan kepada manusia dan membacanya sebagai seorang hamba yang sedang mencari petunjuk bagi dirinya sendiri.
Keduanya baik, tetapi yang pertama tidak dapat menggantikan yang kedua.
Ketika membaca untuk menyiapkan materi, pikiran biasanya sibuk mencari susunan penjelasan, kesesuaian tema, dan cara menyampaikan pesan. Namun, ketika membaca sebagai bentuk ibadah, seseorang datang dengan hati yang membutuhkan teguran, penghiburan, penyembuhan, dan bimbingan.
Seorang juru dakwah dapat menjelaskan sebuah ayat kepada banyak orang, tetapi ia tetap membutuhkan saat ketika ayat itu berbicara kepada dirinya sendiri. Al-Qur’an tidak cukup hadir di atas mimbar, ruang kelas, dan bahan presentasi. Ia perlu tetap hidup dalam salat, kesunyian malam, perjalanan, dan waktu pribadi yang tidak diketahui manusia.
Hafalan memang harus selalu dijaga
Lemahnya hafalan tidak selalu datang secara tiba-tiba. Awalnya mungkin hanya satu bagian yang terasa ragu. Setelah itu, beberapa ayat mulai tertukar. Jika tidak segera diperbaiki, bagian yang dahulu lancar pun terasa semakin jauh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
“Jagalah Al-Qur’an ini dengan selalu mengulanginya. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an lebih cepat terlepas daripada unta dari ikatannya.”
(HR. al-Bukhari no. 5033 dan Muslim no. 791; lihat al-Durar al-Saniyyah)
Perumpamaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang yang mulai lupa. Rasulullah ﷺ justru sedang menjelaskan sifat hafalan Al-Qur’an: ia memerlukan penjagaan yang terus-menerus.
Lupa dapat terjadi karena usia, sakit, kelelahan, banyaknya tanggung jawab, atau melemahnya kemampuan. Karena itu, keadaan setiap orang tidak layak disamaratakan. Akan tetapi, ketika hafalan melemah karena murajaah terus tertunda, hal itu dapat menjadi tanda bahwa pola hidup dan pembagian waktu perlu diperbaiki.
Hafalan tidak cukup dijaga dengan niat baik. Ia membutuhkan perjumpaan yang berulang. Sebagaimana unta yang tetap terjaga selama ikatannya diperhatikan, hafalan pun akan lebih kuat selama tilawah dan murajaah terus dipelihara.
Menjadikan ayat tentang meninggalkan Al-Qur’an sebagai cermin
Allah mengabadikan pengaduan Rasulullah ﷺ:
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang diabaikan.’”
(QS. al-Furqan: 30)
Konteks ayat ini berkaitan dengan sikap orang-orang yang menolak Al-Qur’an. Karena itu, ayat tersebut tidak sepatutnya digunakan secara serampangan untuk memberi label kepada seorang muslim. Namun, penjelasan para ulama tentang bentuk-bentuk meninggalkan Al-Qur’an tetap patut dijadikan bahan muhasabah.
Ibnu Katsir رحمه الله menjelaskan:
وَتَرْكُ عِلْمِهِ وَحِفْظِهِ أَيْضًا مِنْ هِجْرَانِهِ، وَتَرْكُ تَدَبُّرِهِ وَتَفَهُّمِهِ مِنْ هِجْرَانِهِ
“Meninggalkan upaya mempelajari dan menghafalnya termasuk bentuk meninggalkannya. Demikian pula meninggalkan tadabur dan usaha memahaminya termasuk bentuk meninggalkannya.”
(Tafsir Ibn Kathir, QS. al-Furqan: 30)
Ayat ini lebih baik diarahkan kepada diri sendiri sebagai pertanyaan: adakah bagian dari hubungan dengan Al-Qur’an yang mulai terabaikan? Bukan sebagai palu untuk memukul orang lain.
Dalam kajian Nazharat fi Kutub al-Tafsir, Syaikh Khalid al-Sabt juga mengingatkan bahwa meninggalkan Al-Qur’an tidak terbatas pada meninggalkan bacaannya, tetapi dapat berupa meninggalkan tadabur, pemahaman, dan pengamalannya. Beliau mengajak setiap orang meninjau kembali berbagai kesibukan yang menyita umur apabila dibandingkan dengan waktunya bersama Kitab Allah. (Sumber kajian)
Kehilangan yang lebih dalam daripada sekadar hafalan
Lupa beberapa ayat tentu terasa menyedihkan, terutama bagi orang yang pernah menghafalnya dengan perjuangan panjang. Namun, ada kehilangan lain yang mungkin lebih halus: ketika Al-Qur’an masih dapat dikutip oleh lisan, tetapi semakin jarang menjadi tempat hati kembali.
Ayat-ayat masih digunakan untuk menasihati orang lain, tetapi tidak lagi dibaca perlahan untuk menasihati diri sendiri. Mushaf dibuka ketika ada materi yang harus disiapkan, tetapi tidak dibuka ketika hati sedang lelah. Al-Qur’an tetap menjadi sumber argumentasi, tetapi tidak lagi dirasakan sebagai penawar kegelisahan.
Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه berkata:
يَنْبَغِي لِحَامِلِ الْقُرْآنِ أَنْ يُعْرَفَ بِلَيْلِهِ إِذَا النَّاسُ نَائِمُونَ، وَبِنَهَارِهِ إِذَا النَّاسُ مُفْطِرُونَ، وَبِوَرَعِهِ إِذَا النَّاسُ يَخْلِطُونَ، وَبِتَوَاضُعِهِ إِذَا النَّاسُ يَخْتَالُونَ
“Sepantasnya pembawa Al-Qur’an dikenal dengan ibadah malamnya ketika manusia tidur, dengan puasanya ketika manusia tidak berpuasa, dengan sikap wara‘nya ketika manusia mencampuradukkan perkara, dan dengan kerendahan hatinya ketika manusia menyombongkan diri.”
(Al Imam An-Nawawi dalam al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an)
Atsar ini menunjukkan bahwa pembawa Al-Qur’an tidak cukup dikenal melalui hafalan dan penyampaiannya. Ia juga membutuhkan kehidupan pribadi bersama Al-Qur’an yang menumbuhkan ibadah, wara‘, dan kerendahan hati.
Beberapa tanda yang layak direnungkan
Tidak satu pun dari tanda berikut menjadi vonis terhadap keimanan seseorang. Semuanya hanyalah bahan evaluasi pribadi:
- Mushaf hampir selalu dibuka untuk mencari dalil, bukan untuk tilawah yang tenang.
- Waktu membaca Al-Qur’an mudah dikorbankan, sementara agenda lain selalu memperoleh tempat.
- Hafalan hanya diulang menjelang ceramah, ujian, atau ketika akan dibaca di hadapan orang lain.
- Ada waktu panjang untuk melihat pesan dan media sosial, tetapi tilawah terasa sulit mendapatkan beberapa menit.
- Seseorang lebih khawatir terlihat lupa di hadapan manusia daripada kehilangan kedekatan dengan Al-Qur’an saat sendirian.
Apabila beberapa keadaan ini mulai terasa, tidak perlu tenggelam dalam penyesalan. Kesadaran tersebut justru merupakan pintu untuk kembali menata hubungan dengan Al-Qur’an.
Membangun kembali hubungan yang dapat bertahan
Rasulullah ﷺ pernah memberikan arahan kepada Abdullah bin Amr رضي الله عنهما:
اقْرَأِ الْقُرْآنَ فِي شَهْرٍ… اقْرَأْ فِي سَبْعٍ، وَلَا تَزِيدَنَّ عَلَى ذَلِكَ
“Bacalah Al-Qur’an dalam satu bulan… Bacalah dalam tujuh hari dan jangan lebih cepat daripada itu.”
(HR. Abu Dawud no. 1388; diriwayatkan pula dengan redaksi yang berdekatan oleh al-Bukhari no. 5054 dan Muslim no. 1159; lihat al-Durar al-Saniyyah)
Hadits tersebut menunjukkan pentingnya memiliki irama tilawah yang terukur. Jumlah bacaan dapat disesuaikan dengan kemampuan dan keadaan, tetapi hubungan dengan Al-Qur’an tidak dibiarkan tanpa jadwal.
Beberapa langkah berikut dapat diterapkan:
- Melindungi satu waktu sebelum kesibukan dimulai.
Waktu setelah Subuh biasanya lebih mudah dijaga daripada menunggu sela di tengah padatnya agenda. Pesan, berita, dan pekerjaan dapat menunggu beberapa menit, sedangkan hati memerlukan bekal sebelum menghadapi manusia. - Menetapkan batas minimal yang realistis.
Misalnya dua atau empat halaman tilawah setiap hari. Bagi penghafal, tetapkan bagian murajaah sesuai kemampuan—seperempat juz, setengah juz, atau satu juz. Angka tersebut bukan ketentuan agama, tetapi alat untuk menjaga kesinambungan. - Membedakan tilawah, murajaah, dan tadabur.
Tilawah menjaga hubungan rutin dengan seluruh Al-Qur’an. Murajaah menjaga ayat yang telah dihafal. Tadabur membantu hati memahami pesan Allah. Ketiganya saling melengkapi dan tidak harus selalu dilakukan dalam satu waktu. - Menghidupkan hafalan dalam salat.
Bagian yang telah diperiksa dapat dibaca bergantian dalam salat sunnah dan qiyamul lail. Dengan cara ini, hafalan tidak hanya berada dalam ingatan, tetapi kembali hadir dalam ibadah. - Mengganti bacaan yang tertunda pada hari yang sama.
Jika waktu utama terlewat karena keadaan mendesak, carilah waktu pengganti tanpa menunggu hari berikutnya. Tujuannya bukan membebani diri, tetapi mencegah satu hari terlewat berubah menjadi kebiasaan panjang. - Meninjau kembali agenda dakwah.
Tidak setiap undangan harus diterima dan tidak semua pekerjaan harus ditangani sendiri. Mendelegasikan sebagian tugas atau menolak kegiatan yang kurang prioritas kadang diperlukan untuk menjaga amanah yang lebih mendasar. - Memiliki teman murajaah atau guru.
Setoran berkala membantu menemukan bagian yang mulai lemah. Bagi orang yang lama tidak murajaah, kembali membaca di hadapan guru juga melatih kerendahan hati dan kesungguhan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah amal yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.”
(HR. al-Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783)
Karena itu, beberapa halaman yang dibaca setiap hari lebih baik daripada target besar yang hanya bertahan beberapa waktu. Hubungan yang kuat dengan Al-Qur’an tidak selalu dibangun melalui lompatan besar, tetapi melalui perjumpaan kecil yang tidak pernah sengaja ditinggalkan.
Dakwah seharusnya semakin mendekatkan kepada Al-Qur’an
Tidak perlu meninggalkan dakwah untuk kembali kepada Al-Qur’an. Yang diperlukan adalah mengembalikan Al-Qur’an ke pusat kehidupan dakwah.
Dakwah membutuhkan ilmu, tetapi juga membutuhkan hati yang hidup. Ia membutuhkan kemampuan berbicara, tetapi juga membutuhkan waktu untuk diam dan mendengarkan Kalam Allah. Ia membutuhkan keberanian tampil di hadapan manusia, tetapi juga membutuhkan kerendahan hati untuk duduk sendirian di hadapan mushaf.
Apabila hafalan telah banyak melemah, mulailah kembali tanpa malu. Apabila tilawah lama terputus, bukalah mushaf tanpa menunggu keadaan menjadi lapang. Kesibukan mungkin tidak pernah benar-benar selesai. Akan selalu ada agenda, persoalan, dan amanah baru.
Jangan menunggu hidup menjadi sepi untuk kembali kepada Al-Qur’an. Justru Al-Qur’anlah yang akan menolong hati tetap tenang di tengah ramainya kehidupan.
Semoga Allah menjaga para juru dakwah, guru, penghafal Al-Qur’an, dan seluruh kaum muslimin agar tetap dekat dengan Kitab-Nya; membasahi lisan dengan tilawah, menguatkan hafalan, membuka hati untuk mentadaburi ayat-ayat-Nya, serta menjadikan dakwah sebagai jalan yang semakin mendekatkan kepada-Nya.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim.
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari.
- Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim.
- Abu Dawud, Sunan Abi Dawud.
- Ibn Kathir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azim.
- An-Nawawi, al-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an.
- Ibn al-Qayyim, al-Fawa’id.
- Khalid al-Sabt, Nazharat fi Kutub al-Tafsir: Ahammiyyat al-Tafsir wa Kaifa Tu‘iddu Darsan fi al-Tafsir.