Lā Ilāha Illallāh: Kalimat yang Mengubah Seluruh Kehidupan

ArtikelAqidahTauhidTazkiyah

Lā Ilāha Illallāh: Kalimat yang Mengubah Seluruh Kehidupan

Memahami makna, rukun, dan konsekuensi kalimat tauhid agar ia tidak berhenti di lisan, tetapi hidup dalam keyakinan, ibadah, dan seluruh perjalanan seorang muslim.

Kalimat Tauhid

Ada satu kalimat yang sangat pendek diucapkan oleh lisan, tetapi lebih besar daripada dunia dan seluruh isinya. Dengannya seseorang memasuki Islam, dengannya para rasul diutus, karenanya kitab-kitab diturunkan, dan di atasnya kehidupan seorang muslim dibangun.

Kalimat itu adalah:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

Lā ilāha illallāh.

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.”

Ia bukan sekadar kalimat yang diucapkan ketika seseorang masuk Islam. Bukan pula sekadar dzikir yang diulang setelah shalat. Lā ilāha illallāh adalah prinsip hidup. Ia menentukan kepada siapa hati bergantung, kepada siapa doa dipanjatkan, kepada siapa rasa takut dan harap diarahkan, untuk siapa ibadah dilakukan, serta hukum siapa yang diterima dengan ketundukan.

Karena itu Allah tidak sekadar memerintahkan kita mengucapkannya. Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu.”

(QS. Muhammad: 19)

Perhatikanlah firman-Nya: فَاعْلَمْ — “maka ketahuilah.” Tauhid dimulai dengan ilmu, bukan sekadar ucapan. (Quran.com)

Kalimat yang Menjadi Fondasi Islam

Rasulullah ﷺ bersabda:

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji, dan berpuasa Ramadan.”

(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bangunan Islam yang begitu luas ternyata berdiri pertama kali di atas tauhid. Shalat, zakat, puasa, haji dan seluruh amal tidak akan memiliki nilai di sisi Allah apabila fondasi tauhidnya runtuh.

Karena itulah perkara pertama yang perlu ditanamkan kepada seorang muslim bukan sekadar banyaknya amal, tetapi untuk siapa amal itu dilakukan.

Apa Sebenarnya Makna Lā Ilāha Illallāh?

Sebagian orang memahami kalimat ini hanya sebagai:

“Tidak ada Tuhan selain Allah.”

Ungkapan tersebut dapat menimbulkan pemahaman yang kurang lengkap apabila “Tuhan” hanya dimaksudkan sebagai pencipta. Sebab orang-orang musyrik pada zaman Rasulullah ﷺ pun pada dasarnya mengakui Allah sebagai Pencipta.

Makna tauhid yang lebih tepat adalah:

لَا مَعْبُودَ بِحَقٍّ إِلَّا اللَّهُ

“Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.”

Ada banyak sesuatu yang disembah manusia: berhala, manusia, jin, kuburan, kekuasaan dan berbagai objek lainnya. Namun semuanya adalah sesembahan yang batil. Yang berhak menerima seluruh ibadah hanyalah Allah.

Inilah inti dakwah seluruh rasul.

Allah berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.’”

(QS. An-Nahl: 36)

Ayat ini memperlihatkan dua sisi tauhid: menyembah Allah dan meninggalkan segala yang disembah selain-Nya.

Dua Rukun Lā Ilāha Illallāh

Kalimat tauhid mempunyai dua rukun besar: an-nafyu dan al-itsbāt.

1. النَّفْيُ — Meniadakan

Yaitu bagian:

لَا إِلٰهَ

“Tidak ada sesembahan…”

Ini berarti menolak seluruh peribadatan kepada selain Allah.

Doa, tawakal, isti’anah dalam perkara yang hanya mampu dilakukan Allah, nadzar, penyembelihan sebagai ibadah, rasa takut ibadah, pengharapan tertinggi, dan seluruh bentuk penghambaan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya.

2. الْإِثْبَاتُ — Menetapkan

Yaitu:

إِلَّا اللَّهُ

“…kecuali Allah.”

Setelah seluruh sesembahan selain Allah diingkari, seluruh ibadah kemudian ditetapkan hanya untuk Allah.

Allah menjelaskan dua unsur ini dengan sangat indah:

فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ

“Barang siapa mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat.”

(QS. Al-Baqarah: 256)

يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ adalah penafian, sedangkan يُؤْمِنْ بِاللَّهِ adalah penetapan.

Maka tauhid bukan sekadar mengatakan, “Saya beriman kepada Allah,” sementara hati dan ibadah masih bergantung kepada selain-Nya.

Lā Ilāha Illallāh Bukan Sekadar Ucapan

Seandainya kalimat tauhid cukup diucapkan oleh lisan tanpa ilmu, keyakinan dan pengamalan, tentu orang-orang munafik termasuk manusia yang paling selamat. Mereka mengucapkannya, tetapi Allah mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati mereka.

Rasulullah ﷺ justru menghubungkan kalimat tauhid dengan ilmu.

Beliau ﷺ bersabda:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, maka ia masuk surga.”

(HR. Muslim no. 26)

Bukan hanya:

وَهُوَ يَقُولُ

“sedang dia mengucapkannya,”

tetapi:

وَهُوَ يَعْلَمُ

“sedang dia mengetahuinya.”

Di sinilah pentingnya mempelajari tauhid.

Syarat-Syarat Lā Ilāha Illallāh

Para ulama menjelaskan bahwa kalimat tauhid memiliki sejumlah syarat yang ditunjukkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah. Di antara yang masyhur dirangkum dalam tujuh perkara:

العِلْمُ، اليَقِينُ، القَبُولُ، الانْقِيَادُ، الصِّدْقُ، الإِخْلَاصُ، المَحَبَّةُ

Ilmu, yakin, menerima, tunduk, jujur, ikhlas dan cinta.

1. الْعِلْمُ — Ilmu yang Meniadakan Kebodohan

Seseorang mengetahui makna kalimat yang diucapkannya.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah.”

(QS. Muhammad: 19)

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, maka ia masuk surga.”

(HR. Muslim)

2. الْيَقِينُ — Keyakinan yang Meniadakan Keraguan

Orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh harus meyakininya dengan hati yang mantap, bukan dengan keraguan.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”

(QS. Al-Hujurat: 15)

Rasulullah ﷺ juga bersabda kepada Abu Hurairah رضي الله عنه:

مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ

“Siapa saja yang engkau temui di balik kebun ini yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dalam keadaan hatinya meyakininya, maka berilah kabar gembira kepadanya dengan surga.”

(HR. Muslim)

Kata: مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ “hatinya meyakininya”, menunjukkan bahwa keyakinan merupakan bagian penting dari kalimat tauhid.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا

“Sesungguhnya orang-orang beriman hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.”

(QS. Al-Hujurat: 15)

3. الْقَبُولُ — Menerima yang Meniadakan Penolakan

Seseorang harus menerima kandungan lā ilāha illallāh. Ia tidak boleh mengetahui kebenarannya tetapi menolaknya karena kesombongan, adat, kepentingan, atau hawa nafsu.

Allah menggambarkan orang-orang musyrik:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ ۝ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya apabila dikatakan kepada mereka, ‘Lā ilāha illallāh,’ mereka menyombongkan diri. Dan mereka berkata, ‘Apakah kami harus meninggalkan sesembahan-sesembahan kami karena seorang penyair gila?’”

(QS. Ash-Shaffat: 35–36)

Mereka memahami bahwa lā ilāha illallāh menuntut meninggalkan sesembahan selain Allah. Masalah mereka bukan tidak memahami lafaznya, tetapi tidak mau menerima konsekuensinya.

Maka mengetahui kebenaran saja belum cukup. Hati harus menerimanya.

4. الِانْقِيَادُ — Tunduk yang Meniadakan Pembangkangan

Setelah mengetahui, meyakini, dan menerima tauhid, seseorang harus tunduk kepada Allah dengan ketaatan.

Allah berfirman:

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

“Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dalam keadaan berbuat ihsan, maka sungguh ia telah berpegang teguh kepada tali yang sangat kuat. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.”

(QS. Luqman: 22)

Ungkapan:

يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ

“menyerahkan dirinya kepada Allah” mengandung makna ketundukan dan kepatuhan kepada-Nya. Karena itu lā ilāha illallāh tidak hanya menghasilkan keyakinan di dalam hati, tetapi juga terlihat dalam ketaatan anggota badan. Tauhid berkata kepada hati: berimanlah. Dan tauhid berkata kepada kehidupan: tunduklah.

5. الصِّدْقُ — Kejujuran yang Meniadakan Dusta

Kalimat tauhid harus diucapkan dengan jujur dari hati. Lisan dan hati tidak boleh bertentangan.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Mu’adz bin Jabal رضي الله عنه:

مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

“Tidaklah seseorang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dengan jujur dari hatinya, melainkan Allah mengharamkannya dari neraka.”

(Muttafaq ‘alaih)

Perhatikan kalimat:

صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ

“dengan jujur dari hatinya.”

Inilah yang membedakan seorang mukmin dengan seorang munafik. Orang munafik mungkin mengucapkan syahadat dengan lisannya, tetapi hatinya tidak membenarkannya.

Allah berfirman:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, ‘Kami bersaksi bahwa engkau benar-benar Rasul Allah.’ Allah mengetahui bahwa engkau benar-benar Rasul-Nya, dan Allah bersaksi bahwa orang-orang munafik itu benar-benar pendusta.”

(QS. Al-Munafiqun: 1)

Mereka tidak berdusta tentang kenyataan bahwa Muhammad ﷺ adalah Rasul Allah. Kedustaan mereka terletak pada pengakuan bahwa hati mereka benar-benar bersaksi, padahal tidak demikian.

6. الْإِخْلَاصُ — Ikhlas yang Meniadakan Syirik dan Riya’Tauhid menuntut agar seluruh ibadah dimurnikan hanya untuk Allah.

Allah berfirman:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”

(QS. Az-Zumar: 3)

Allah juga berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali agar beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.”

(QS. Al-Bayyinah: 5)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ

“Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka atas orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh dengan mengharapkan wajah Allah.”

(Muttafaq ‘alaih)

Dalam riwayat al-Bukhari ditegaskan bahwa orang yang mengucapkan lā ilāha illallāh dengan ikhlas dan mengharap keridhaan Allah mendapatkan keutamaan tersebut.

Maka tidak cukup mengucapkan tauhid apabila tujuan ibadah justru diberikan kepada manusia.

7. الْمَحَبَّةُ — Cinta yang Meniadakan Kebencian

Seorang yang mengucapkan lā ilāha illallāh harus mencintai Allah, mencintai kalimat tauhid, mencintai ibadah kepada-Nya, dan mencintai apa yang Allah cintai.

Allah berfirman:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Di antara manusia ada orang-orang yang menjadikan tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”

(QS. Al-Baqarah: 165)

Allah juga berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.’”

(QS. Ali ‘Imran: 31)

Cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan.

Ia memiliki bukti.

Ketika seseorang mencintai Allah, ia mencintai ketaatan kepada-Nya, mencintai Rasul-Nya ﷺ, mencintai syariat-Nya, dan mendahulukan apa yang Allah cintai daripada hawa nafsunya.

Ada sebagian ulama yang menambahkan syarat ke delapan, yaitu:

الْكُفْرُ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah.”

Dalilnya dalam sabda Rasulullah ﷺ:

(HR. Muslim)

مَنْ قَالَ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللَّهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ

“Barang siapa mengucapkan lā ilāha illallāh dan mengingkari segala sesuatu yang disembah selain Allah, maka harta dan darahnya menjadi terjaga, sedangkan perhitungannya terserah kepada Allah.”

Konsekuensi Tauhid dalam Kehidupan

Di sinilah persoalan yang sering terlupakan. Kita mungkin telah mengetahui arti lā ilāha illallāh, tetapi pertanyaan berikutnya jauh lebih penting:

Apa yang berubah dalam kehidupan seseorang setelah mengucapkannya?

1. Tauhid mengubah tujuan ibadah

Shalat bukan lagi sekadar rutinitas. Sedekah bukan untuk mendapatkan pujian. Mengajar bukan untuk membangun nama. Dakwah bukan untuk mencari pengikut.

Allah berfirman:

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ۝ لَا شَرِيكَ لَهُ

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.”

(QS. Al-An’am: 162–163)

Tauhid mengajarkan satu pertanyaan sebelum beramal:

“Untuk siapa ini dilakukan?”

2. Tauhid mengubah tempat bergantungnya hati

Manusia tetap bekerja, berobat, berusaha, meminta bantuan kepada orang lain dalam perkara yang mampu dilakukan manusia dan menggunakan sebab-sebab yang dibolehkan. Namun hati tidak bergantung kepada sebab.

Hati bergantung kepada Allah yang menciptakan sebab dan menentukan hasilnya.

Karena itu orang bertauhid dapat berusaha dengan sungguh-sungguh tanpa menuhankan usaha.

Ia dapat memiliki harta tanpa menjadi hamba harta.

Ia dapat mempunyai jabatan tanpa menjadikan jabatan sebagai tujuan hidup.

3. Tauhid membebaskan manusia dari penghambaan kepada manusia

Salah satu buah terbesar tauhid adalah kemerdekaan hati.

Ketika hanya Allah yang menjadi Rabb dan sesembahan seorang mukmin, manusia tidak lagi menjadi pusat kehidupannya.

Pujian manusia tidak membuatnya terbang terlalu tinggi.

Celaan manusia tidak selalu membuatnya jatuh.

Popularitas bukan ukuran kebenaran.

Banyaknya pengikut bukan ukuran diterimanya amal.

Karena ia mengetahui bahwa yang paling penting bukanlah:

“Bagaimana manusia memandangku?”

tetapi:

“Bagaimana kedudukanku di hadapan Allah?”

4. Tauhid menuntut kita meninggalkan syirik

Konsekuensi lā ilāha illallāh bukan hanya memperbanyak ibadah kepada Allah, tetapi juga menjaga ibadah tersebut agar tidak diberikan kepada selain-Nya.

Karena itu seorang muslim harus berhati-hati terhadap segala bentuk kesyirikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya syirik benar-benar kezaliman yang sangat besar.”

(QS. Luqman: 13)

Dan semakin seseorang memahami tauhid, semakin ia takut amalnya tercemari sesuatu yang merusak keikhlasan.

Tauhid Juga Harus Menjaga Hati dari Riya’

Ada bentuk penghambaan hati yang sangat halus: ketika manusia mulai menjadi tujuan dari amal kita.

Seseorang mungkin tidak bersujud kepada manusia, tetapi ia melakukan amal agar manusia memujinya.

Ia mungkin tidak berdoa kepada manusia, tetapi semangat amalnya hidup ketika diperhatikan manusia dan melemah ketika tidak ada yang melihat.

Di sinilah tauhid harus masuk lebih dalam daripada sekadar pembahasan akidah di ruang belajar.

Tauhid harus sampai kepada ruang tersembunyi di dalam hati.

Apakah kita masih mau beramal ketika tidak seorang pun mengetahuinya?

Apakah kita tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memuji?

Apakah kita tetap menjaga ketaatan ketika tidak ada kamera, tidak ada unggahan dan tidak ada manusia yang mengetahui?

Jika iya, di sanalah salah satu buah tauhid mulai terasa.

Tauhid Tidak Berarti Orang Beriman Tidak Berdosa

Memahami konsekuensi lā ilāha illallāh juga harus seimbang. Orang yang bertauhid bukan berarti tidak pernah bermaksiat. Seorang mukmin dapat tergelincir dalam dosa karena kelemahan iman dan hawa nafsunya. Tetapi dosa berbeda dengan membatalkan tauhid. Karena itu Ahlussunnah tidak mudah mengeluarkan seorang muslim dari Islam hanya karena melakukan kemaksiatan. Selama seseorang tidak melakukan perkara yang benar-benar membatalkan keislamannya setelah terpenuhi syarat-syarat dan hilang penghalang-penghalangnya, dosa tidak otomatis menjadikannya kafir. Justru tauhid membuat seorang mukmin selalu memiliki jalan untuk kembali

Ia berdosa, kemudian bertaubat. Ia tergelincir, kemudian bangkit. Ia lalai, kemudian beristighfar.

Allah sendiri menggandengkan tauhid dengan istighfar:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ

“Ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.”

(QS. Muhammad: 19)

Betapa indahnya: tauhid tidak menjadikan seseorang merasa suci. Tauhid justru membuatnya semakin mengenal Allah dan semakin menyadari kekurangan dirinya.

Kalimat yang Kita Harapkan Menjadi Penutup Kehidupan

Pada akhirnya, perjalanan seorang muslim adalah perjalanan menjaga kalimat yang dahulu membawanya masuk ke dalam Islam agar tetap bersamanya sampai kematian.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang akhir perkataannya adalah lā ilāha illallāh, ia akan masuk surga.”

(HR. Abu Dawud; dishahihkan oleh al-Albani)

Namun akhir kehidupan tidak berdiri sendiri. Seseorang biasanya meninggal di atas sesuatu yang selama ini memenuhi kehidupannya.

Karena itu harapan terbesar bukan sekadar mampu mengucapkan lā ilāha illallāh menjelang kematian.

Harapan yang lebih besar adalah:

hidup di atas lā ilāha illallāh, beribadah di atasnya, mendidik keluarga di atasnya, bekerja di atasnya, berdakwah di atasnya, mencintai dan membenci karena Allah di atasnya, lalu diwafatkan Allah di atasnya.

Jangan Biarkan Tauhid Hanya Menjadi Pelajaran

Kita sering mempelajari tauhid sebagai kumpulan definisi: tauhid rububiyyah, uluhiyyah, asma’ wa shifat; rukun lā ilāha illallāh; syarat-syaratnya; pembatal-pembatalnya.

Semua itu penting.

Namun ilmu tauhid seharusnya melahirkan perubahan.

Semakin mengenal tauhid, seharusnya semakin ikhlas.

Semakin mengenal Allah, semakin sedikit ketergantungan hati kepada manusia.

Semakin memahami lā ilāha illallāh, semakin takut terhadap syirik.

Semakin memahami bahwa hanya Allah yang menguasai manfaat dan mudarat, semakin kuat tawakal.

Semakin memahami bahwa hanya Allah yang mengetahui dan membalas seluruh amal, semakin ringan melakukan kebaikan yang tidak diketahui manusia.

Maka sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

Sudah berapa lama kalimat lā ilāha illallāh diucapkan, tetapi sejauh mana kalimat itu telah mengubah hati dan kehidupan?

Sebab lā ilāha illallāh bukan sekadar kalimat untuk dihafalkan.

Ia adalah kalimat untuk dipahami, diyakini, dicintai, diamalkan, diperjuangkan dan dibawa menghadap Allah.

Semoga Allah menghidupkan kita di atas tauhid, menjaga hati kita dari segala bentuk kesyirikan, memberikan keikhlasan dalam seluruh amal, dan menjadikan kalimat terakhir kita ketika meninggalkan dunia:

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

Referensi

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Shahih al-Bukhari, Kitab al-Iman.
  • Shahih Muslim, Kitab al-Iman.
  • Abu Dawud, as-Sunan.
  • Muhammad bin Abdul Wahhab, Kitab at-Tauhid alladzi Huwa Haqqullahi ‘ala al-‘Abid.
  • Muhammad bin Abdul Wahhab, Tsalatsatul Ushul wa Adillatuha.
  • Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh, Fath al-Majid Syarh Kitab at-Tauhid.
  • Abdurrahman as-Sa’di, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan.
  • Ibn al-Qayyim, Madarij as-Salikin.