Murajaah Bukan Sekadar Mengulang: Menjaga Hafalan Al-Qur’an agar Tetap Hidup
02/08/2026 2026-08-02 6:58Murajaah Bukan Sekadar Mengulang: Menjaga Hafalan Al-Qur’an agar Tetap Hidup
Murajaah Bukan Sekadar Mengulang: Menjaga Hafalan Al-Qur’an agar Tetap Hidup

Ada kegembiraan tersendiri ketika seorang santri berhasil menyelesaikan satu halaman baru, menambah satu surah, atau mencapai jumlah juz tertentu. Setiap penambahan terasa seperti kemajuan yang nyata. Angka hafalan bertambah, target semakin dekat, dan keberhasilan mudah dilihat serta dirayakan.
Namun, perjalanan bersama Al-Qur’an tidak selesai ketika ayat telah masuk ke dalam ingatan. Justru setelah itu dimulailah amanah yang lebih panjang: menjaganya agar tetap kuat, benar, dan hidup di dalam hati.
Di sinilah murajaah memperoleh kedudukannya. Murajaah bukan pekerjaan sisa setelah menambah hafalan. Ia bukan kegiatan bagi santri yang sedang tidak memiliki target baru. Murajaah adalah inti dari penjagaan hafalan. Tanpanya, hafalan yang dibangun berbulan-bulan dapat melemah sedikit demi sedikit; mula-mula ragu pada sambungan ayat, kemudian tertukar ayat-ayat yang serupa, hingga akhirnya halaman yang dahulu lancar terasa asing.
Karena itu, ukuran keberhasilan tahfidz tidak cukup dengan pertanyaan, “Sudah hafal berapa juz?” Pertanyaan yang lebih jujur adalah, “Berapa juz yang masih dapat dibaca dengan kuat, benar, dan tenang?”
Hafalan adalah amanah, bukan sekadar pencapaian
Allah Ta‘ala berfirman:
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
“Sebenarnya, Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang zalim.”
(QS. Al-‘Ankabut: 49)
Ayat ini menunjukkan kemuliaan Al-Qur’an yang disimpan di dalam dada. Akan tetapi, kemuliaan tersebut sekaligus melahirkan tanggung jawab. Sesuatu yang berharga tidak cukup dimiliki; ia harus dijaga.
Hafalan bukan piala yang diletakkan di rak setelah diraih. Ia lebih menyerupai tanaman yang harus terus disiram. Pernah hafal tiga puluh juz tentu merupakan nikmat besar, tetapi nikmat itu menuntut syukur dalam bentuk pemeliharaan. Murajaah adalah salah satu wujud syukur tersebut.
Pandangan ini perlu ditanamkan sejak awal kepada santri. Jika orientasi tahfidz hanya mengejar penyelesaian target, santri akan menganggap ziyadah sebagai kemajuan dan murajaah sebagai hambatan. Namun, ketika ia memahami bahwa tujuan menghafal adalah menemani Al-Qur’an sepanjang hidup, pengulangan tidak lagi terasa sebagai kemunduran. Ia justru menjadi cara agar perjalanan dapat terus dilanjutkan.
Perintah Nabi ﷺ untuk terus menjaga Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الْإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
“Jagalah Al-Qur’an ini secara terus-menerus. Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh ia lebih cepat lepas daripada unta dari tali pengikatnya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim) (Takhrij dan syarah hadits)
Kata ta‘āhadū berarti memelihara bacaan, terus membacanya, dan mengulang bagian yang telah dihafal agar tetap ada dan kokoh.
Makna ta‘āhud juga mengandung sikap terus kembali dalam jarak yang dekat, memperhatikan, serta tidak membiarkan hafalan karena kelalaian atau kesibukan dengan hal lain.
Pilihan kata Nabi ﷺ sangat mendalam. Beliau tidak sekadar memerintahkan membaca ulang, tetapi menjaga secara berkelanjutan. Ini menunjukkan bahwa hubungan dengan hafalan harus dekat dan teratur. Jeda yang terlalu panjang memberi ruang bagi hafalan untuk terlepas.
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ memberikan perumpamaan:
إِنَّمَا مَثَلُ صَاحِبِ الْقُرْآنِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْإِبِلِ الْمُعَقَّلَةِ، إِنْ عَاهَدَ عَلَيْهَا أَمْسَكَهَا، وَإِنْ أَطْلَقَهَا ذَهَبَتْ
“Perumpamaan orang yang menguasai Al-Qur’an adalah seperti pemilik unta yang terikat. Jika ia terus menjaganya, ia dapat menahannya; jika ia melepaskannya, unta itu akan pergi.”
(HR. al-Bukhari no. 5031 dan Muslim no. 789) (Takhrij dan syarah hadis)
Hadits ini bukan berarti merendahkan kemampuan penghafal. Ia sedang mengajarkan tabiat hafalan: kuatnya hafalan bukan keadaan permanen yang dapat dibiarkan tanpa perawatan. Kelancaran hari ini tidak menjamin kelancaran beberapa bulan mendatang apabila hubungan dengan ayat terputus.
Murajaah adalah sunnah dalam belajar Al-Qur’an
Rasulullah ﷺ sendiri melakukan mudārasah Al-Qur’an bersama Jibril pada setiap malam Ramadan. Abdullah bin Abbas رضي الله عنهما meriwayatkan:
وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ
“Jibril menemui beliau pada setiap malam bulan Ramadan, lalu mempelajari Al-Qur’an bersama beliau.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim) (Takhrij dan syarah hadis)
Dalam riwayat sahih lainnya disebutkan bahwa Jibril meninjau Al-Qur’an bersama Nabi ﷺ sekali setiap tahun dan melakukannya dua kali pada tahun wafat beliau. (Sahih al-Bukhari no. 4998)
Tentu hafalan Rasulullah ﷺ tidak dapat disamakan dengan hafalan manusia biasa. Namun, peristiwa ini mengandung pelajaran pendidikan yang sangat kuat: Al-Qur’an dipelajari dengan pengulangan, ditinjau secara teratur, dan dibaca di hadapan pihak lain.
Tradisi menyimakkan hafalan kepada guru bukan sekadar sistem pesantren yang dibuat untuk menilai santri. Ia memiliki akar yang kuat dalam cara Al-Qur’an diwariskan.
Membaca sendiri penting, tetapi seseorang sering tidak menyadari kesalahannya sendiri. Kesalahan yang berulang dapat terasa benar karena telinga telah terbiasa. Guru atau teman simakan membantu menemukan kesalahan pada makhraj, harakat, tajwid, waqaf, dan sambungan ayat yang mungkin luput dari perhatian.
Mengapa murajaah sering terasa lebih berat?
Murajaah menghadirkan kenyataan tentang kualitas hafalan. Ketika menambah ayat baru, seseorang merasakan keberhasilan. Ketika murajaah, ia justru berhadapan dengan lupa, keraguan, dan kesalahan.
Karena itu, secara psikologis ziyadah sering lebih menarik, sedangkan murajaah membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati.
Ada beberapa penyebab yang sering membuat murajaah melemah:
- Terlalu mengejar jumlah hafalan baru. Hafalan terus ditambah ketika bagian lama belum kokoh. Akibatnya, beban pemeliharaan membesar lebih cepat daripada kemampuan menjaganya.
- Tidak memiliki porsi harian yang tetap. Murajaah dilakukan ketika ada waktu senggang. Padahal, waktu senggang sering tidak pernah benar-benar datang.
- Mengandalkan rasa familiar. Melihat ayat di mushaf terasa mudah, lalu dianggap sudah hafal. Padahal, mengenali ayat tidak sama dengan mampu membacanya tanpa bantuan.
- Murajaah hanya menjelang ujian. Hafalan mungkin dapat dipaksa lancar dalam waktu singkat, tetapi tidak dibangun untuk ketahanan jangka panjang.
- Semua bagian diperlakukan sama. Halaman yang sangat lemah memperoleh porsi yang sama dengan halaman yang telah kuat, sehingga kesalahan inti tidak segera diperbaiki.
- Tidak ada tasmi’ (membaca/menyetorkan hafalan kepada guru atau teman) dan pencatatan kesalahan. Kesalahan yang sama terus muncul karena tidak dikenali sebagai pola yang harus ditangani.
Masalah murajaah tidak selalu terletak pada kurangnya kemampuan. Sering kali persoalannya adalah sistem yang tidak seimbang dan kebiasaan yang tidak konsisten.
Prinsip membangun murajaah yang kuat
Tidak ada satu jumlah yang sama untuk semua orang. Porsi murajaah perlu mempertimbangkan jumlah hafalan, kekuatan ingatan, usia, kegiatan harian, serta kemampuan membaca. Meski demikian, beberapa prinsip berikut dapat dijadikan dasar.
1. Dahulukan kekuatan sebelum penambahan
Menambah sedikit dengan hafalan yang kokoh lebih baik daripada menambah cepat tetapi meninggalkan banyak bagian rapuh.
Apabila kesalahan pada hafalan lama mulai meningkat, penambahan baru dapat dikurangi atau dihentikan sementara. Ini bukan kegagalan, melainkan tindakan penyelamatan.
2. Tetapkan porsi yang jelas dan realistis
Murajaah harus memiliki waktu dan jumlah yang pasti. Bagi penghafal tiga puluh juz, misalnya, murajaah satu juz per hari dapat menjadi batas dasar sehingga seluruh hafalan berputar setiap bulan. Akan tetapi, bagian yang lemah memerlukan pengulangan tambahan.
Santri dengan jumlah hafalan lebih sedikit dapat mengulang seluruh simpanannya dalam putaran yang lebih pendek.
Target yang baik bukan yang tampak paling tinggi, tetapi yang mampu dijalankan dengan disiplin dan menghasilkan hafalan yang semakin kuat.
3. Bedakan hafalan baru, hafalan dekat, dan hafalan lama
Hafalan baru membutuhkan pengulangan lebih rapat. Hafalan beberapa hari atau beberapa pekan sebelumnya memerlukan penjagaan transisi. Adapun hafalan lama harus masuk dalam putaran murajaah besar secara teratur.
Ketiga lapisan ini tidak boleh saling menggantikan.
Seseorang yang hanya mengulang hafalan baru akan kehilangan bagian lama. Sebaliknya, orang yang hanya menjaga hafalan lama tanpa mengokohkan tambahan terbaru akan menumpuk halaman-halaman rapuh.
4. Bacalah dari hafalan sebelum melihat mushaf
Mushaf digunakan untuk mengoreksi, bukan untuk menutupi kelemahan. Cobalah membaca satu halaman dari hafalan, tandai tempat yang ragu atau salah, kemudian buka mushaf dan perbaiki secara spesifik.
Cara ini memberikan gambaran yang lebih jujur tentang keadaan hafalan.
5. Catat kesalahan yang berulang
Tidak semua kesalahan memiliki bobot yang sama. Ada kekeliruan sesaat karena kurang fokus, ada pula kesalahan yang telah menetap.
Catatan sederhana tentang ayat mutasyabihat, awal halaman, akhir halaman, atau sambungan yang sering tertukar akan membuat murajaah lebih terarah.
6. Setorkan kepada guru atau pasangan dalam tasmi’
Hafalan yang tidak pernah diuji mudah melahirkan rasa percaya diri yang semu. Simakan membantu menjaga ketepatan sekaligus melatih ketenangan membaca di hadapan orang lain.
Guru juga dapat menentukan apakah seorang santri siap menambah hafalan atau perlu memperbaiki bagian tertentu.
7. Hidupkan hafalan dalam shalat
Ayat yang dibaca dalam shalat memperoleh ikatan yang berbeda di dalam hati. Pilih bagian murajaah untuk dibaca dalam shalat sunnah dan qiyamul lail.
Dengan demikian, hafalan tidak hanya hadir di halaqah, tetapi masuk ke dalam ibadah sehari-hari.
8. Terapkan prinsip “tidak ada hari tanpa murajaah”
Pada hari yang sangat sibuk atau ketika tubuh tidak sehat, porsi dapat dikurangi. Namun, hubungan dengan hafalan jangan diputus seluruhnya.
Sedikit yang terjaga secara konsisten lebih kuat daripada jumlah besar yang dilakukan sesekali.
Murajaah harus menghidupkan hati, bukan hanya lisan
Tujuan tertinggi Al-Qur’an bukan sekadar agar susunan ayat tersimpan dalam memori. Al-Qur’an diturunkan untuk dibaca, dipahami, direnungkan, diyakini, dan diamalkan.
Imam an-Nawawi dalam At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an menjelaskan bahwa pembawa Al-Qur’an seharusnya menghiasi diri dengan keadaan dan akhlak yang paling mulia, menjauh dari apa yang dilarang Al-Qur’an, serta memiliki kekhusyukan, ketenangan, dan kewibawaan. (At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an)
Karena itu, murajaah yang sempurna bukan hanya mengembalikan ayat yang mulai lupa, tetapi juga mengembalikan hati kepada petunjuknya.
Ketika mengulang ayat tentang keikhlasan, hati diperiksa dari riya. Ketika membaca ayat tentang sabar, sikap terhadap kesulitan diperbaiki. Ketika melewati ayat tentang menjaga lisan, ucapan ikut dijaga.
Boleh jadi seseorang mampu melanjutkan seluruh ayat tanpa kesalahan, tetapi kehidupannya jauh dari bimbingan ayat yang dibaca. Secara hafalan ia lancar, tetapi secara ruhani ia sedang kehilangan Al-Qur’an.
Sebaliknya, hafalan yang terus dijaga sekaligus diamalkan akan membentuk cara berpikir, cara berbicara, dan cara menghadapi kehidupan.
Peran guru dan orang tua
Anak tidak cukup hanya diperintah, “Murajaah yang rajin.” Ia membutuhkan sistem, pendampingan, dan teladan.
Guru perlu memastikan bahwa target ziyadah tidak mengorbankan kualitas murajaah. Penilaian tahfidz hendaknya tidak hanya menghargai banyaknya tambahan, tetapi juga kekuatan hafalan lama, ketepatan tajwid, kesungguhan, dan adab santri terhadap Al-Qur’an.
Orang tua pun perlu mengubah cara memberikan apresiasi. Jangan hanya bertanya tentang tambahan juz. Tanyakan pula apakah hafalan lama masih lancar, bagian mana yang sedang diperbaiki, dan bagaimana menjaga wirid Al-Qur’an.
Ketika anak pulang, sediakan waktu simakan dan suasana rumah yang mendukung kebiasaan tersebut.
Apabila seorang anak sedang memperbaiki hafalan dan tambahan juznya melambat, jangan buru-buru menganggapnya tertinggal. Bisa jadi ia sedang membangun fondasi yang lebih kuat.
Dalam tahfidz, kemajuan tidak selalu berbentuk bertambahnya halaman; kadang kemajuan justru berbentuk berkurangnya kesalahan.
Jangan berputus asa ketika hafalan melemah
Lupa memang menyedihkan, tetapi kesedihan itu seharusnya menggerakkan seseorang untuk kembali, bukan membuatnya menjauh. Halaman yang terasa berat bukan bukti bahwa seluruh usaha telah sia-sia. Ia adalah panggilan agar hubungan dengan Al-Qur’an diperbarui.
Mulailah kembali dari porsi yang sanggup dijaga. Perbaiki satu halaman, lalu halaman berikutnya. Jangan menunggu motivasi besar untuk memulai.
Kedekatan dengan Al-Qur’an sering kali tidak lahir sebelum membaca, tetapi tumbuh setelah seseorang memaksa dirinya duduk, membuka mushaf, dan mengulang ayat demi ayat.
Murajaah mengajarkan bahwa keberhasilan besar dibangun melalui kesetiaan pada pekerjaan yang berulang. Tidak selalu ada pencapaian baru untuk diumumkan. Tidak selalu ada pujian.
Namun, setiap ayat yang kembali kuat adalah nikmat, setiap kesalahan yang berhasil diperbaiki adalah kemajuan, dan setiap waktu yang dihabiskan bersama Kalamullah adalah kemuliaan.
Penutup
Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan mengambil ayat-ayat Allah ke dalam dada. Murajaah adalah kesetiaan untuk tidak membiarkannya pergi.
Karena itu, jangan menempatkan murajaah sebagai pekerjaan kedua setelah ziyadah. Keduanya adalah satu kesatuan: hafalan baru memperluas simpanan, sedangkan murajaah menjaga agar simpanan itu tetap hidup.
Bahkan, pada banyak keadaan, menjaga yang telah dihafal harus lebih didahulukan daripada mengejar tambahan baru.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk hati, cahaya dalam kehidupan, dan hujah yang membela kita pada hari perjumpaan dengan-Nya. Semoga Allah memberi kekuatan kepada para penghafal Al-Qur’an untuk terus membaca, menjaga, memahami, dan mengamalkannya hingga akhir hayat.
Referensi
- Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-‘Ankabut: 49.
- Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Fada’il al-Qur’an, no. 4998, 5031, dan 5033.
- Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim, Kitab Salat al-Musafirin wa Qasriha, no. 789 dan 791.
- Khalid ibn Utsman as-Sabt, Syarh Riyadh as-Salihin, Bab al-Amr bi Ta‘ahhud al-Qur’an.
- Yahya ibn Syaraf an-Nawawi, At-Tibyan fi Adab Hamalat al-Qur’an, bab Adab Hamil al-Qur’an.