Menjaga Komunikasi Baik dengan Anak: Pelajaran dari Sapaan “Yā Bunayya” dalam Al-Qur’an

ArtikelKepengasuhanParenting

Menjaga Komunikasi Baik dengan Anak: Pelajaran dari Sapaan “Yā Bunayya” dalam Al-Qur’an

Nasihat tidak hanya membutuhkan kebenaran isi, tetapi juga hati yang siap menerimanya.

Sapaan Yā Bunayya mengajarkan bahwa ketegasan dan kasih sayang tidak perlu dipertentangkan dalam mendidik anak.

Tidak sedikit orang tua yang memiliki niat baik, nasihat yang benar, dan harapan yang besar untuk anaknya. Namun, tidak semua nasihat berhasil sampai ke hati. Ada pesan yang benar tetapi disampaikan ketika emosi sedang memuncak. Ada arahan yang penting tetapi dibungkus dengan bentakan, perbandingan, atau ungkapan yang melukai harga diri anak.

Akhirnya, anak mungkin mendengar kata-kata orang tuanya, tetapi tidak lagi merasakan kedekatan di balik kata-kata itu.

Al-Qur’an tidak hanya mengajarkan apa yang harus disampaikan kepada anak. Al-Qur’an juga memperlihatkan bagaimana para nabi dan orang saleh berbicara kepada mereka. Salah satu ungkapan yang sangat indah adalah:

يَا بُنَيَّ

Yā bunayya — “Wahai anakku tersayang.”

Ungkapan ini muncul enam kali dalam Al-Qur’an: dalam percakapan Nabi Nuh dengan putranya, Nabi Ya‘qub dengan Yusuf, Nabi Ibrahim dengan putranya, serta nasihat Luqman kepada anaknya.

Menariknya, yā bunayya tidak hanya digunakan ketika anak sedang taat atau menyenangkan hati orang tua. Sapaan ini juga hadir ketika anak perlu diperingatkan, diluruskan, bahkan ketika ia sedang menolak kebenaran.

Di sinilah terdapat pelajaran besar: kasih sayang tidak boleh hilang ketika orang tua sedang menasihati, sedangkan kasih sayang juga tidak boleh menghalangi orang tua untuk menyampaikan kebenaran.

“Yā bunayya”: kasih sayang yang membuka hati

Secara bahasa, kata bunayya merupakan bentuk tashghīr dari kata ibn, yang menunjukkan makna kasih sayang, kelembutan, dan kedekatan.

Ibnu ‘Asyur رحمه الله menjelaskan:

وَهَذَا التَّصْغِيرُ كِنَايَةٌ عَنْ تَحْبِيبٍ وَشَفَقَةٍ

“Bentuk pengecilan kata ini merupakan ungkapan kasih dan rasa sayang.”

Beliau juga menerangkan bahwa dalam konteks nasihat, ungkapan tersebut menunjukkan ketulusan menginginkan kebaikan bagi anak. (Al-Tahrir wa al-Tanwir, QS. Luqman: 13)

Dengan sapaan itu, orang tua seakan berkata, “Engkau tetap anakku yang kucintai. Karena itulah aku menasihatimu.”

Tentu, pelajarannya bukan sekadar mengganti panggilan anak dengan kata yā bunayya. Sapaan yang lembut tidak akan banyak berarti apabila setelahnya anak direndahkan, tidak didengarkan, atau dipermalukan. Yā bunayya menggambarkan keseluruhan sikap: kedekatan sebelum pengarahan, kasih sayang ketika mengoreksi, dan ketulusan dalam menginginkan kebaikan.

Menyampaikan perkara besar tanpa kehilangan kelembutan

Nasihat pertama Luqman kepada anaknya adalah nasihat tentang tauhid:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat ia menasihatinya, ‘Wahai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan benar-benar merupakan kezaliman yang besar.’”
(QS. Luqman: 13)

Syirik adalah dosa yang paling besar. Meskipun demikian, Luqman tidak menyampaikan larangan itu dengan penghinaan. Ia memulai dengan sapaan yang penuh kasih, menyampaikan larangan secara jelas, kemudian memberikan alasannya: kesyirikan adalah kezaliman yang besar.

Ayat ini mempertemukan tiga unsur penting dalam komunikasi:

  • hubungan yang hangat: yā bunayya;
  • batas yang tegas: lā tusyrik billāh;
  • alasan yang mendidik: inna al-syirka lazhulmun ‘azhīm.

Kasih sayang tidak menjadikan nasihat kehilangan ketegasan. Sebaliknya, ketegasan tidak harus menghilangkan kelembutan.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua terkadang terlalu cepat memberi label kepada anak. Kesalahan belajar berubah menjadi sebutan “pemalas”. Kecerobohan disebut “bodoh”. Pelanggaran aturan membuat anak dianggap “nakal” atau “tidak dapat dipercaya”.

Padahal, mengoreksi perbuatan berbeda dengan merendahkan kepribadian. Orang tua dapat mengatakan, “Perbuatan ini keliru dan harus diperbaiki,” tanpa membuat anak merasa bahwa dirinya telah kehilangan nilai dan tempat di hati orang tuanya.

Membangun rumah yang aman bagi cerita anak

Kisah Nabi Yusuf عليه السلام dimulai dengan sebuah percakapan yang sangat dekat antara anak dan ayah:

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya bersujud kepadaku.’

Ayahnya berkata, ‘Wahai anakku tersayang, janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, karena mereka dapat merencanakan suatu tipu daya terhadapmu. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.’”
(QS. Yusuf: 4–5)

Yusuf berani menceritakan pengalaman yang sangat pribadi kepada ayahnya. Hal itu menunjukkan adanya kedekatan dan rasa percaya. Nabi Ya‘qub عليه السلام kemudian mendengarkan, memahami keadaan anak-anaknya, dan memberikan perlindungan yang diperlukan.

Beliau tidak menertawakan mimpi Yusuf. Beliau juga tidak segera mengubah percakapan tersebut menjadi ceramah panjang. Beliau memahami apa yang diceritakan anaknya, membaca risiko yang mungkin terjadi, lalu memberikan arahan yang sesuai. Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwa peringatan tersebut dimaksudkan untuk melindungi Yusuf dari bahaya yang dikhawatirkan menimpanya. (Al-Tahrir wa al-Tanwir, QS. Yusuf: 5)

Anak akan lebih mudah terbuka apabila ia tidak merasa setiap ceritanya akan langsung disalahkan, dibocorkan, atau dijadikan bahan untuk mempermalukannya.

Karena itu, ketika anak mulai bercerita, orang tua perlu menahan diri dari beberapa kebiasaan:

  • memotong pembicaraan sebelum anak selesai;
  • langsung mencari kesalahannya;
  • tergesa-gesa memberikan vonis;
  • membandingkannya dengan saudara atau temannya;
  • menceritakan masalah pribadinya kepada orang lain tanpa kebutuhan;
  • menjadikan cerita hari ini sebagai senjata ketika terjadi pertengkaran pada masa berikutnya.

Mendengarkan tidak selalu berarti menyetujui semua yang dikatakan anak. Orang tua tetap perlu memeriksa fakta, meluruskan kesalahan, dan mengambil tindakan apabila terdapat bahaya. Namun, semua itu sebaiknya dilakukan setelah anak merasakan bahwa ceritanya benar-benar didengar.

Melibatkan anak tanpa menyerahkan seluruh keputusan

Ketika Nabi Ibrahim عليه السلام menerima perintah yang sangat berat, beliau mengajak putranya berbicara:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ketika anak itu telah mencapai usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku tersayang, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
(QS. al-Saffat: 102)

Perintah Allah tentu bukan perkara yang dapat ditawar. Namun, Nabi Ibrahim tidak memperlakukan anaknya sebagai benda yang tidak memiliki pikiran dan perasaan. Beliau menjelaskan apa yang diterimanya, memberi kesempatan kepada anak untuk memahami, kemudian mendengarkan jawabannya.

Ibnu ‘Asyur menerangkan bahwa pertanyaan “Maka pikirkanlah, bagaimana pendapatmu?” memberi kesempatan kepada sang anak untuk menunjukkan kerelaan dan ketaatannya kepada Allah. Dengan demikian, ia memperoleh kemuliaan melalui kesadaran, keridaan, dan kesabarannya sendiri. (Al-Tahrir wa al-Tanwir, QS. al-Saffat: 102)

Dari sini dapat dipahami bahwa melibatkan anak dalam pembicaraan tidak berarti menyerahkan semua keputusan kepadanya. Ada keputusan yang tetap menjadi tanggung jawab orang tua. Namun, terutama ketika anak mulai beranjak remaja, ia perlu mengetahui alasan, tujuan, dan akibat dari sebuah keputusan.

Anak boleh bertanya tanpa segera dianggap membantah. Orang tua dapat membedakan pertanyaan untuk memahami dengan penolakan terhadap kebenaran. Ketaatan yang tumbuh bersama ilmu dan kesadaran akan lebih kuat daripada kepatuhan yang hanya muncul karena takut dimarahi.

Tetap lembut ketika anak menolak, tetap tegas dalam prinsip

Kisah Nabi Nuh عليه السلام menunjukkan keadaan yang sangat mengharukan:

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Kapal itu berlayar membawa mereka dalam gelombang seperti gunung. Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat terpisah, ‘Wahai anakku tersayang, naiklah bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’”
(QS. Hud: 42)

Pada saat yang sangat genting, Nabi Nuh tetap memanggilnya dengan yā bunayya. Penolakan anak tidak mengubah lisannya menjadi celaan. Bahkan ketika keselamatan tinggal sesaat, kasih seorang ayah masih hadir dalam panggilan tersebut.

Namun, kelembutan Nabi Nuh tidak mengaburkan kebenaran. Beliau berkata dengan jelas:

وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ

“Janganlah engkau bersama orang-orang kafir.”

Inilah keseimbangan yang sering sulit dijaga: hati tetap menyayangi, sementara prinsip tetap berdiri kokoh. Orang tua tidak harus memilih antara menjadi lembut atau menjadi tegas. Keduanya dapat hadir pada saat yang sama.

Kisah ini juga mengajarkan bahwa komunikasi yang baik merupakan ikhtiar, bukan jaminan bahwa anak pasti menerima nasihat. Nabi Nuh telah menyeru dengan penuh kasih, tetapi putranya tetap menolak. Hidayah berada di tangan Allah.

Karena itu, orang tua tidak boleh berhenti berusaha. Namun, mereka juga tidak semestinya terus-menerus menghukum diri ketika telah berikhtiar dengan benar sementara anak belum berubah. Tugas orang tua adalah menyampaikan, mendampingi, memberi teladan, menjaga batas, dan berdoa. Adapun membolak-balikkan hati adalah kekuasaan Allah.

Ibnu ‘Asyur menyebut panggilan Nabi Nuh tersebut sebagai bimbingan yang disampaikan dengan kelembutan dan kasih sayang. (Al-Tahrir wa al-Tanwir, QS. Hud: 42)

Nasihat adalah proses, bukan ledakan sesaat

Luqman tidak hanya sekali berkata yā bunayya. Sapaan itu diulang dalam rangkaian pendidikan yang tersusun:

يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Wahai anakku tersayang, sungguh jika ada suatu perbuatan seberat biji sawi, berada dalam batu, di langit, atau di bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya. Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahateliti.”
(QS. Luqman: 16)

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Wahai anakku tersayang, dirikanlah salat, perintahkanlah yang makruf, cegahlah kemungkaran, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang membutuhkan keteguhan.”
(QS. Luqman: 17)

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ

“Janganlah engkau memalingkan wajah dari manusia karena kesombongan dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. Bersikaplah wajar dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.”
(QS. Luqman: 18–19)

Rangkaian tersebut menunjukkan keluasan pendidikan dalam keluarga:

  • tauhid meluruskan tujuan hidup;
  • kesadaran akan pengawasan Allah membangun pengendalian diri;
  • shalat membentuk hubungan dengan Allah;
  • amar ma’ruf dan nahi mungkar menumbuhkan tanggung jawab sosial;
  • kesabaran mempersiapkan anak menghadapi kesulitan;
  • kerendahan hati dan pengendalian suara membentuk adab dalam pergaulan.

Luqman tidak hanya memberi tahu anaknya tentang apa yang dilarang. Ia membangun cara pandang, ibadah, ketangguhan, dan akhlaknya.

Komunikasi yang baik karena itu tidak boleh muncul hanya ketika anak melakukan kesalahan. Apabila percakapan orang tua dengan anak hampir selalu berisi teguran, evaluasi, dan tuntutan, anak akan menganggap kehadiran orang tua sebagai pertanda bahwa masalah baru akan dibicarakan.

Anak juga membutuhkan percakapan yang tenang: mendengar kisah orang tuanya, membicarakan kebesaran Allah, mendiskusikan pengalaman sehari-hari, tertawa dalam hal yang dibolehkan, dan merasakan kebersamaan tanpa selalu sedang diperiksa.

Teladan Rasulullah ﷺ: singkat, jelas, dan tidak merendahkan

Ketika Umar bin Abi Salamah رضي الله عنه masih kecil dan tangannya bergerak ke berbagai sisi hidangan, Rasulullah ﷺ mengarahkannya:

ادْنُ يَا بُنَيَّ، فَسَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Mendekatlah, wahai anakku. Sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang berada di dekatmu.”
(HR. Abu Dawud no. 3777 dan al-Tirmidzi no. 1857; dinilai sahih oleh al-Albani. Riwayat dengan redaksi yā ghulām terdapat dalam Sahih al-Bukhari no. 5376 dan Sahih Muslim no. 2022. Lihat al-Durar al-Saniyyah)

Rasulullah ﷺ tidak memberi label buruk kepada anak tersebut. Beliau mengoreksi tindakan yang sedang terjadi, lalu memberikan tiga arahan yang singkat dan mudah diingat.

Kelembutan seperti ini bukan berarti membiarkan kesalahan. Rasulullah ﷺ tetap mengajarkan adab dengan jelas. Namun, kebenaran disampaikan dengan cara yang menjaga kemuliaan orang yang dinasihati.

Beliau ﷺ bersabda:

إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ

“Sesungguhnya kelembutan tidaklah berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya buruk.”
(HR. Muslim no. 2594; lihat al-Durar al-Saniyyah)

Hadits ini tidak menghapus kebutuhan akan aturan, disiplin, dan konsekuensi. Ia mengajarkan cara menjalankannya. Batas tetap dapat ditegakkan tanpa penghinaan, suara tetap dapat tegas tanpa menjadi kasar, dan kesalahan tetap dapat diluruskan tanpa merusak hubungan.

Menghadirkan semangat “Yā bunayya” dalam kehidupan sehari-hari

Beberapa langkah berikut dapat diterapkan dalam komunikasi keluarga:

1. Mendekat sebelum mengarahkan

Pastikan anak merasakan bahwa orang tuanya hadir untuk menolong, bukan sekadar mencari kesalahan. Panggil namanya dengan baik, duduklah di dekatnya, lalu sampaikan persoalan dengan tenang.

2. Memilih waktu yang tepat

Nasihat yang benar dapat kehilangan pengaruh apabila disampaikan ketika anak sangat lelah, lapar, malu, atau sedang dikuasai emosi. Kecuali dalam keadaan darurat, tenangkan keadaan terlebih dahulu sebelum membahas masalah.

3. Mendengarkan sampai selesai

Jangan menyusun bantahan ketika anak masih berbicara. Dengarkan cerita, tanyakan bagian yang belum jelas, lalu simpulkan kembali untuk memastikan bahwa persoalannya dipahami dengan benar.

4. Membahas perbuatan, bukan merendahkan diri anak

Katakan, “Perbuatan ini tidak benar,” bukan, “Kamu memang selalu menjadi anak yang buruk.” Kesalahan perlu diluruskan, tetapi pintu perbaikan harus tetap terbuka.

5. Menjelaskan alasan dan hubungannya dengan Allah

Luqman tidak hanya mengatakan, “Jangan berbuat syirik,” tetapi juga menjelaskan bahwa syirik merupakan kezaliman yang besar. Anak perlu memahami bahwa aturan agama bukan semata-mata keinginan orang tua, melainkan jalan menuju keridaan Allah dan kebaikan hidupnya.

6. Memberi ruang untuk bertanya dan berpendapat

Pertanyaan anak tidak selalu berarti penentangan. Terkadang ia sedang berusaha memahami. Orang tua tetap memegang tanggung jawab keputusan, tetapi anak diberi kesempatan untuk menyampaikan perasaan, kesulitan, dan pandangannya.

7. Menetapkan konsekuensi secara jelas dan adil

Kelembutan tidak berarti tidak ada akibat dari pelanggaran. Konsekuensi sebaiknya sudah dipahami, sesuai dengan kesalahan, bertujuan mendidik, dan tidak dijatuhkan sebagai pelampiasan kemarahan.

8. Menutup pembicaraan dengan harapan

Setelah kesalahan dibahas, jangan membuat anak merasa masa depannya telah tertutup. Sampaikan bahwa ia dapat memperbaiki diri, orang tua siap membantu, dan kasih sayang tidak dicabut hanya karena satu kesalahan.

Ketika anak sedang belajar di pesantren

Bagi anak yang tinggal di pesantren, komunikasi dengan orang tua memiliki tantangan tersendiri. Waktu berbicara mungkin terbatas sehingga percakapan mudah berubah menjadi sesi pemeriksaan:

“Sudah hafal berapa halaman?”

“Nilainya bagaimana?”

“Pernah terlambat jamaah atau tidak?”

Pertanyaan semacam itu penting, tetapi tidak seharusnya menjadi seluruh isi komunikasi. Anak juga perlu ditanya tentang keadaan hatinya, kesulitan yang dihadapi, hubungannya dengan teman, kenyamanan dalam belajar, serta bantuan apa yang dibutuhkannya.

Ketika anak menyampaikan keluhan tentang pesantren, orang tua sebaiknya mendengarkan tanpa langsung menyalahkan anak maupun menyimpulkan bahwa pesantren pasti bersalah. Terima ceritanya, tanyakan urutan kejadian, tenangkan perasaannya, kemudian lakukan tabayun kepada pengasuh atau guru.

Komunikasi yang baik tidak membuat anak berhadapan dengan pesantren. Sebaliknya, orang tua dan pesantren bekerja sama untuk membimbingnya. Anak perlu merasakan bahwa orang tuanya tetap menjadi tempat kembali, tetapi juga tidak akan membenarkan setiap tindakannya tanpa pemeriksaan.

Yang paling penting, anak perlu mengetahui bahwa kasih sayang orang tuanya tidak diukur hanya dari jumlah hafalan, nilai rapor, atau prestasi. Prestasi dihargai dan kekurangan diperbaiki, tetapi kedudukannya sebagai anak yang dicintai tetap dijaga.

Jika komunikasi terlanjur renggang

Tidak semua keluarga memulai dari keadaan yang ideal. Ada orang tua yang baru menyadari bahwa selama ini lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Ada pula anak yang telah terbiasa menyimpan masalah karena takut dimarahi.

Hubungan seperti ini masih dapat diperbaiki.

Orang tua dapat memulainya dengan mengakui kekeliruan secara jujur. Meminta maaf kepada anak tidak menghilangkan kewibawaan. Justru hal itu mengajarkan keberanian bertanggung jawab dan menunjukkan bahwa kebenaran harus diterima oleh siapa pun.

Setelah itu, bangunlah kembali komunikasi melalui perjumpaan kecil yang konsisten. Jangan memaksa anak segera menceritakan semuanya. Kepercayaan yang lama melemah membutuhkan waktu untuk tumbuh kembali.

Teruslah hadir, tepati janji, jaga rahasia yang patut dijaga, dan buktikan bahwa setiap cerita tidak selalu berakhir dengan bentakan. Sedikit demi sedikit, insyaallah pintu hati akan terbuka.

Kasih sayang yang mengantarkan kepada Allah

Yā bunayya bukan sekadar panggilan indah. Ia menggambarkan cara pandang orang tua terhadap anak: sosok yang harus dicintai, dilindungi, didengarkan, diarahkan, dan dipersiapkan untuk menjadi hamba Allah.

Nabi Ya‘qub menggunakan kasih sayang untuk melindungi. Nabi Ibrahim menggunakannya dalam dialog. Nabi Nuh tetap menggunakannya ketika anak menolak. Luqman menggunakannya untuk membangun tauhid, ibadah, keteguhan, dan akhlak.

Nasihat yang lembut belum tentu selalu diterima. Namun, kelembutan menjaga agar kebenaran tidak tertutup oleh luka yang ditimbulkan oleh cara penyampaiannya.

Semoga Allah memperbaiki komunikasi dalam keluarga, melembutkan hati orang tua dan anak, serta menganugerahkan keturunan yang menenangkan hati:

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berdoa, ‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, serta jadikanlah kami teladan bagi orang-orang yang bertakwa.’”
(QS. al-Furqan: 74)

Referensi

  • Al-Qur’an al-Karim.
  • Al-Bukhari, Sahih al-Bukhari.
  • Muslim ibn al-Hajjaj, Sahih Muslim.
  • Abu Dawud, Sunan Abi Dawud.
  • Al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi.
  • Ibn ‘Asyur, Al-Tahrir wa al-Tanwir.
  • ‘Abdurrahman al-Sa‘di, Taysir al-Karim al-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan.
  • Al-Durar al-Saniyyah, Al-Mawsu‘ah al-Haditsiyyah.
Select the fields to be shown. Others will be hidden. Drag and drop to rearrange the order.
  • Image
  • SKU
  • Rating
  • Price
  • Stock
  • Availability
  • Add to cart
  • Description
  • Content
  • Weight
  • Dimensions
  • Additional information
Click outside to hide the comparison bar
Compare
No apps configured. Please contact your administrator.
No apps configured. Please contact your administrator.